
Jenazah Florencia Lolita Wibisono, pramugari senior berusia 33 tahun yang akrab disapa Olen, telah teridentifikasi pada Rabu, 21 Januari 2026, menyusul tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan nomor registrasi PK-THT di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, setelah dinyatakan hilang kontak pada 17 Januari 2026. Rekan-rekan seprofesi Olen mengenang sosoknya sebagai motivator, pribadi yang sangat sabar, ramah, dan ceria, serta menjadi panutan bagi juniornya di dunia penerbangan.
Pesawat nahas yang mengangkut tujuh awak dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam misi patroli pengawasan sumber daya laut ini hilang kontak dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Tim SAR gabungan berhasil menemukan puing pesawat dan jenazah korban di lereng Gunung Bulusaraung. Jenazah Olen ditemukan pada 19 Januari 2026 di jurang sedalam sekitar 500 meter dari puncak gunung. Proses identifikasi dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan melalui sidik jari, mengakhiri penantian keluarga yang penuh harap.
Firda (28), salah satu rekan Olen yang telah mengenalnya selama sekitar sepuluh tahun, mengungkapkan rasa terkejut dan kesedihannya. "Mbak Florencia ini tuh sangat sabar ya kalau saya bilang tuh. Sangat ramah, ceria, iya. Sangat motivator buat kita," ujar Firda di rumah duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara pada 22 Januari 2026. Firda dan Dita (28), yang juga junior Olen saat di Wings Air, mengaku Olen adalah instruktur yang memberikan bimbingan terkait keselamatan penerbangan. Dita bahkan menyempatkan diri datang ke rumah duka langsung setelah mendarat dari penerbangan, menyebut Olen sebagai "role model" bagi mereka.
Olen, yang berdarah Manado, Sulawesi Utara, dikenal memiliki hubungan sangat dekat dengan keluarganya. Kakak-kakaknya, Tasya dan Felix, tak kuasa menahan tangis saat jenazah adiknya diterima keluarga. Olen terakhir kali melakukan panggilan video dengan ibunya pada 16 Januari 2026, sehari sebelum penerbangan nahas, memohon doa. Unggahan terakhirnya di media sosial juga menjadi sorotan, menampilkan video di tepi Danau Toba dengan pesan yang kini terasa menyayat hati: "Better live your life, we're running out of time."
Selain dedikasinya dalam pekerjaan selama 14 tahun di dunia penerbangan, Olen juga tengah merencanakan pernikahan dengan kekasihnya yang juga seorang pilot. Rencana masa depan yang telah ditata apik itu kini pupus digantikan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah memulai investigasi mendalam untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut. Kedua kotak hitam, Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR), telah ditemukan di lokasi kejadian pada 22 Januari 2026 dan segera dibawa ke Jakarta untuk dianalisis. Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan, data dari CVR akan merekam komunikasi antarpilot, antara pesawat dan ATC, serta komunikasi dari kokpit ke kabin, sementara FDR menyimpan sekitar 88 parameter data penerbangan seperti ketinggian dan kecepatan. Proses analisis ini diperkirakan memakan waktu sekitar lima hingga enam hari. Pesawat ATR 42-500 dengan nomor seri 611 itu diketahui berusia 25 tahun dan beroperasi sebagai penerbangan sewaan untuk KKP.
Meskipun seluruh awak pesawat dinyatakan "fit" dan memenuhi standar kesehatan penerbangan berdasarkan data Medical Examination (MEDEX) terakhir yang masih berlaku pada saat kejadian, investigasi KNKT bertujuan mencari "lesson learned" agar kecelakaan serupa tidak terulang di masa mendatang. Kondisi medan yang terjal, cuaca yang cepat berubah, dan vegetasi lebat menjadi tantangan besar bagi tim SAR dalam upaya evakuasi korban.
Pemerintah, melalui Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, telah mengunjungi keluarga para kru untuk memberikan dukungan emosional dan memastikan pendampingan psikologis serta bantuan administratif bagi mereka. Tragedi ini kembali menyoroti pentingnya dukungan psikososial yang berkelanjutan bagi keluarga korban kecelakaan penerbangan, mengingat dampak trauma dan kesedihan yang mendalam.