Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Badai NTT Robohkan Dapur, Lansia Terluka Tertimpa Reruntuhan

2026-01-23 | 17:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T10:31:51Z
Ruang Iklan

Badai NTT Robohkan Dapur, Lansia Terluka Tertimpa Reruntuhan

Maria Muma (68) dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo di Labuan Bajo setelah tertimpa reruntuhan dapur rumah menantunya yang ambruk akibat diterjang angin kencang dan hujan deras di Kampung Nobo, Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis sore, 22 Januari 2026, sekitar pukul 16.00 WITA. Lansia tersebut ditemukan pingsan di lokasi kejadian dan mengalami luka lecet serta nyeri di beberapa bagian tubuh, meskipun tidak ditemukan adanya patah tulang.

Dapur permanen dengan konstruksi panggung itu, yang memiliki struktur tembok dan lantai cor, tidak mampu menahan terjangan cuaca ekstrem sehingga runtuh secara keseluruhan. Maksimus Nurdin, pemilik rumah sekaligus menantu korban, menyampaikan bahwa ibu mertuanya pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Ia juga menuturkan istrinya, yang juga berada di dapur saat kejadian, berhasil menyelamatkan diri. Kerugian materiil akibat insiden ini diperkirakan mencapai Rp30 juta, termasuk kerusakan peralatan memasak dan satu karung beras yang tumpah. Jajaran Polres Manggarai Barat, bersama pemerintah kecamatan, desa, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat setempat, dengan sigap bergerak cepat melakukan penanganan di lokasi kejadian dan mengevakuasi korban.

Insiden yang menimpa Maria Muma menggarisbawahi kerentanan populasi lansia dan kondisi infrastruktur perumahan di wilayah yang sering dilanda cuaca ekstrem seperti NTT. Nusa Tenggara Timur menempati peringkat kedua nasional untuk kategori rumah tidak layak huni, dengan lebih dari 340.000 unit rumah yang tidak memenuhi standar kelayakan, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dan investigasi jurnalistik Kompas tahun 2023. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estat Indonesia (REI) Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) Bobby Pitoby, pada Juli 2023, menyatakan bahwa masalah rumah layak tinggal di NTT masih sangat serius, salah satunya karena daya beli masyarakat yang rendah. Kategori rumah tidak layak huni ini mencakup ketiadaan MCK, akses air bersih, listrik, lantai tanah, dinding bambu atau pelepah lontar, serta atap alang-alang. Bahkan, persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap hunian layak di beberapa kabupaten di NTT masih relatif rendah; misalnya, Manggarai tercatat 54.91% pada Februari 2025.

Dalam konteks lebih luas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT mencatat 60 kejadian bencana alam pada awal 2025, yang didominasi oleh banjir (32 kejadian), tanah longsor (19 kejadian), dan cuaca ekstrem (9 kejadian). Data ini menunjukkan bahwa bencana alam merupakan ancaman berkelanjutan bagi masyarakat NTT. Pada periode tersebut, 4.757 orang terdampak dan 235 orang mengungsi akibat bencana. Dampak cuaca ekstrem terhadap lansia juga menjadi perhatian serius. Para ahli seperti ahli jantung epidemiologi dari Universitas Stanford dan Universitas California, San Francisco, Andrew Chang, menegaskan bahwa orang lanjut usia sangat rentan terhadap dampak panas ekstrem, dan perlindungan bagi populasi ini akan semakin penting di masa mendatang. Kerentanan ini diperparah oleh fisiologi tubuh yang menua, penyakit kardiovaskular atau diabetes, penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan dehidrasi, isolasi sosial, mobilitas terbatas, atau gangguan kognitif.

Peristiwa yang menimpa Maria Muma bukan sekadar insiden tunggal, melainkan refleksi dari tantangan sistemik terkait ketahanan permukiman di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin intens di NTT. Implikasi jangka panjang dari kondisi ini menuntut kebijakan yang lebih komprehensif dalam peningkatan kualitas hunian, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia. Pembangunan hunian yang layak tidak lagi dapat dianggap semata sebagai proyek infrastruktur, melainkan sebagai strategi vital untuk peningkatan kualitas hidup dan mitigasi risiko bencana, sebagaimana analisis dari tim Data Analytic Class Prodi MAP UGM yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1% rumah layak huni dapat meningkatkan angka harapan hidup sebesar 0,29 tahun. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta peran aktif masyarakat, untuk mempercepat program rehabilitasi rumah tidak layak huni dan memperkuat sistem peringatan dini bencana demi mengurangi dampak serupa di masa depan.