Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Transjakarta Sesuaikan Rute Imbas Banjir: Simak Daftar Layanan Terdampak

2026-01-23 | 09:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T02:19:27Z
Ruang Iklan

Transjakarta Sesuaikan Rute Imbas Banjir: Simak Daftar Layanan Terdampak

Intensitas hujan tinggi yang mengguyur Jakarta sejak Kamis pagi, 22 Januari 2026, telah menyebabkan puluhan rute layanan Transjakarta mengalami penyesuaian operasional, mulai dari perpendekan, pengalihan, hingga penghentian sementara. Dampak signifikan ini terjadi akibat genangan air dan kepadatan lalu lintas di berbagai ruas jalan Ibu Kota, termasuk di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat.

Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta, Ayu Wardhani, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. "Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan akibat penyesuaian ini. Tim di lapangan masih terus memantau situasi secara real-time untuk memastikan layanan kembali normal segera setelah kondisi jalan memungkinkan," kata Ayu melalui keterangannya pada Kamis, 22 Januari 2026. Transjakarta juga mengimbau pelanggan untuk memantau informasi terkini melalui aplikasi TJ: Transjakarta dan kanal media sosial resmi perusahaan guna menyesuaikan perjalanan.

Beberapa rute yang mengalami perpendekan layanan pada Kamis, 22 Januari 2026, antara lain Koridor 3 (Kalideres-Monas) yang dipersingkat menjadi Monas-Damai karena genangan air dan kemacetan di Pulo Nangka. Rute 3F (Kalideres-Senayan Bank Jakarta) juga hanya melayani hingga Damai. Koridor 10 (Tanjung Priok-PGC) diperpendek hingga Halim dan tidak melayani Halte Simpang Cawang hingga PGC karena genangan di Jalan Sutoyo. Selain itu, rute 6T (Pasar Minggu-Velbak) terdampak kepadatan di Jalan Brawijaya.

Pengalihan rute juga dilakukan pada Koridor 10H (Tanjung Priok-Bundaran Senayan) yang sebagian busnya dialihkan via JIS, tidak melayani Halte Pademangan hingga Jembatan Merah akibat kepadatan di Jalan RE Martadinata. Rute 5N (Ragunan-Kp Melayu) tidak melayani Bus Stop Gang H Abdul Wahab dan Pasar Buncit karena genangan di Pasar Kambing. Rute 4K (Pulo Gadung-Kejaksaan Agung) arah Pulo Gadung tidak melayani beberapa titik. Pada Jumat pagi, 23 Januari 2026, Rute 6W (Blok M-Duren Tiga via Bangka Raya) mengalami pengalihan karena genangan di Jalan Bangka I, menyebabkan penutupan sementara bus stop Hotel Maharaja hingga Simpang Duren Bangka Timur 2 untuk kedua arah.

Beberapa koridor lain juga terdampak keterlambatan operasional akibat kombinasi hujan dan kepadatan lalu lintas. Di area Petukangan, Jakarta Selatan, Koridor 13, Rute 13B (Puri Beta-Pancoran), L13E (Puri Beta 2-Flyover Kuningan), serta Mikrotrans JAK 107 (Jembatan Garden-Puri Beta) mengalami keterlambatan signifikan akibat kepadatan lalu lintas di sekitar Petukangan hingga kolong Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR). Situasi serupa terjadi di Matraman, Jakarta Timur, pada Koridor 4 (Pulo Gadung-Galunggung), Rute 4C (JIEP-Bundaran Senayan), 4D (Pulo Gadung 2-Kuningan), dan 4K (Pulo Gadung-Kejaksaan Agung) yang melambat menuju arah Galunggung. Gangguan juga dilaporkan di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, memengaruhi Koridor 10 dan 12, serta rute 10D, dan sejumlah Mikrotrans seperti JAK 01, JAK 03, JAK 05, JAK 15, JAK 29, JAK 58, JAK 115, dan JAK 117, sebagian disebabkan oleh aktivitas bongkar muat kontainer di pelabuhan.

Peristiwa ini bukan anomali. Jakarta, sebagai dataran rendah yang dilalui 13 aliran sungai dan berbatasan langsung dengan laut, secara geografis rentan terhadap banjir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan populasi Jakarta mencapai 10,68 juta jiwa dengan kepadatan rata-rata 15.000 jiwa per km², menambah beban pada infrastruktur kota termasuk transportasi. Pada Januari 2020, curah hujan Jakarta mencapai 377 mm/hari, tertinggi dalam 24 tahun, jauh melampaui kapasitas drainase kota yang dirancang untuk menampung maksimal 120 mm/hari. Banjir pada November 2025 menyebabkan 40 halte Transjakarta terdampak, dengan puluhan rute berhenti beroperasi, dialihkan, atau diperpendek. LBH Jakarta bahkan mencatat pada 1 November 2025, banjir merendam 54 RT di Jakarta, dengan kerugian ekonomi akibat banjir mencapai lebih dari 900 juta USD dan 40% wilayah kota berada di bawah permukaan air laut, dengan penurunan tanah 3-10 cm per tahun.

Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengerahkan 668 unit pompa permanen di 243 lokasi dan 536 unit pompa bergerak di lima wilayah, didukung oleh 3.880 personel "pasukan biru" Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta untuk mitigasi banjir. Peringatan dini dari BPBD DKI Jakarta mengindikasikan potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem pada 22-23 Januari 2026, dan lebat hingga sangat lebat pada 24 Januari 2026.

Namun, penyesuaian rute Transjakarta yang berulang setiap musim hujan menunjukkan kebutuhan akan solusi jangka panjang yang lebih komprehensif. Gangguan pada transportasi publik ini tidak hanya berdampak pada mobilitas harian jutaan warga yang bergantung pada Transjakarta, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi signifikan akibat penurunan produktivitas dan kemacetan parah. Upaya mitigasi seperti rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung seluas 7.000 hektare di kawasan Puncak, Jawa Barat, dengan pendanaan dari APBD DKI Jakarta, menjadi krusial. Selain itu, pembangunan infrastruktur drainase yang lebih baik, peningkatan kapasitas sungai, dan perluasan situ penampungan air merupakan investasi mendesak. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, termasuk partisipasi aktif dalam pelaporan dan pemantauan melalui aplikasi seperti JAKI, juga menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan kota terhadap banjir. Tanpa adaptasi dan investasi infrastruktur yang berkelanjutan, fenomena penyesuaian layanan Transjakarta akibat banjir akan terus menjadi siklus berulang yang menghambat denyut nadi metropolitan Jakarta.