Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Puting Beliung Porak-porandakan Kotayasa Banyumas: 3 Rumah Roboh, Puluhan Lainnya Rusak

2026-01-17 | 07:37 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T00:37:17Z
Ruang Iklan

Puting Beliung Porak-porandakan Kotayasa Banyumas: 3 Rumah Roboh, Puluhan Lainnya Rusak

Angin puting beliung melanda Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Jumat sore, 16 Januari 2026, sekitar pukul 17.15 WIB, menyebabkan kerusakan luas pada ratusan rumah setelah hujan deras singkat disertai angin kencang menerjang wilayah tersebut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas mencatat sebanyak 169 rumah warga terdampak, dengan tiga di antaranya roboh dan sembilan lainnya mengalami kerusakan parah, sementara sisanya rusak ringan hingga sedang. Tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini.

Peristiwa ini terjadi di RW 03 dan RT 07 RW 05 Desa Kotayasa, di mana atap rumah ambruk dan seng beterbangan hingga puluhan meter akibat kuatnya hembusan angin. Camat Sumbang, Hermawan Novianto, menjelaskan bahwa tim gabungan dari BPBD Kabupaten Banyumas, Basarnas Unit Siaga SAR Banyumas, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kotayasa, PMI, unsur kecamatan, Polsek, Koramil Sumbang, serta relawan Pramuka Peduli, segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat. Warga yang rumahnya terdampak sementara mengungsi ke rumah kerabat atau tetangga. Penanganan awal dan perbaikan direncanakan dimulai pada Sabtu, 17 Januari 2026, diawali dengan pendataan lanjutan dan asesmen dari BPBD untuk mengklasifikasikan tingkat kerusakan.

Kejadian angin puting beliung di Kotayasa ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang kerap melanda Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Peneliti iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto pada tahun 2022 menyatakan bahwa frekuensi puting beliung di Indonesia telah meningkat hingga 3,5 kali dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini, meskipun bersifat lokal dan singkat serta sulit diprediksi secara akurat, cenderung meningkat frekuensinya di masa transisi musim atau periode pemanasan maksimum. Peningkatan ini diduga kuat berkaitan dengan pemanasan global yang menciptakan kondisi ideal bagi pembentukan pusaran udara, yaitu pemanasan udara permukaan dan kelembaban yang cukup.

Dampak jangka panjang dari bencana semacam ini melampaui kerugian material. Kerusakan lingkungan dan hilangnya tempat tinggal dapat memengaruhi kondisi psikologis dan kesejahteraan mental individu. Oleh karena itu, mitigasi bencana hidrometeorologi, seperti yang diimbau oleh Camat Sumbang kepada masyarakat Kotayasa, menjadi krusial. Upaya mitigasi tidak hanya melibatkan respons pemerintah pascabencana, tetapi juga kesadaran kolektif masyarakat untuk memahami tanda-tanda cuaca ekstrem, mengikuti peringatan dini dari BMKG, dan membangun struktur rumah yang lebih tahan terhadap angin kencang. Edukasi dan kesiapsiagaan mandiri di tingkat keluarga merupakan pilar utama dalam mengurangi risiko dan dampak dari bencana yang semakin sering terjadi ini.