:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482286/original/050786800_1769170703-longboat_tenggelam.jpg)
Sebuah longboat yang mengangkut 59 penumpang terbalik setelah dihantam gelombang tinggi di perairan Desa Bibinoi, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada Jumat, 23 Januari 2026, sekitar pukul 14.00 WIT. Insiden yang terjadi saat longboat berlayar dari Desa Babang menuju Desa Piga Raja ini mengakibatkan satu balita berusia dua tahun, Nurul Najwa, meninggal dunia, dan satu penumpang lainnya, Wildan (50), masih dalam pencarian. Tim SAR gabungan berhasil menyelamatkan 57 penumpang dan mengevakuasi mereka ke Puskesmas Desa Bibinoi.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ternate, Iwan Ramdani, membenarkan kejadian tersebut dan segera mengerahkan Tim Rescue Unit Siaga SAR (USS) Halmahera Selatan ke lokasi. "Tim Rescue USS Halmahera Selatan diberangkatkan ke lokasi kejadian untuk melaksanakan operasi SAR," ujar Iwan Ramdani, menjelaskan bahwa tim bergerak menggunakan truk menuju Desa Babang, lalu melanjutkan perjalanan ke perairan Desa Bibinoi dengan speed boat milik Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP). Operasi pencarian dan pertolongan melibatkan berbagai unsur, termasuk Polairud Polres Halmahera Selatan, Pos TNI Angkatan Laut Halmahera Selatan, BPBD Halmahera Selatan, serta masyarakat setempat.
Kecelakaan laut ini menyoroti kerentanan transportasi di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara terhadap kondisi cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ternate sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi antara 1,25 hingga 2,5 meter di beberapa perairan Maluku Utara, berlaku dari 19 hingga 22 Januari 2026, yang berpotensi membahayakan pelayaran. Meskipun periode peringatan resmi telah berakhir sesaat sebelum insiden, prakiraan BMKG menunjukkan potensi gelombang tinggi 2.8 meter hingga 3.5 meter di perairan Samudra Pasifik utara Maluku. Kondisi angin kencang disertai gelombang tinggi menyebabkan longboat kehilangan keseimbangan sebelum terbalik dan tenggelam.
Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan laut di Maluku Utara, yang secara geografis didominasi oleh perairan dan mengandalkan transportasi laut sebagai tulang punggung konektivitas antar pulau. Data Basarnas Ternate menunjukkan peningkatan signifikan dalam operasi SAR sepanjang tahun 2025, dengan total 49 operasi, naik dari 41 kejadian pada tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 64 persen atau 31 kejadian merupakan kecelakaan kapal, yang mengakibatkan 7 orang meninggal dunia dan 20 orang hilang pada tahun 2025. Kepala Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, mengaitkan lonjakan ini dengan karakteristik wilayah yang didominasi kepulauan, menjadikan sektor transportasi laut sebagai titik rawan.
Melihat seringnya kejadian serupa, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, pada kesempatan terpisah telah mengimbau masyarakat untuk menunda perjalanan laut jika kondisi cuaca buruk. Pemerintah provinsi juga menekankan pentingnya kampanye keselamatan pelayaran secara masif untuk meningkatkan kesadaran publik dan memastikan ketersediaan fasilitas yang memadai guna mencapai "zero accident" di sektor maritim. Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara juga memperketat pengecekan kelengkapan sarana transportasi laut untuk mencegah kecelakaan, terutama saat mobilitas masyarakat meningkat. Kecelakaan longboat di perairan Bibinoi menggarisbawahi urgensi implementasi regulasi keselamatan secara konsisten dan kebutuhan akan budaya keselamatan yang lebih kuat di kalangan operator maupun penumpang.