:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474656/original/004716000_1768525511-IMG_1036_Jusuf_Kalla_Ungkap_Alasan_Pontianak_Layak_Disebut_Kota_Hijau_Religius.jpeg)
PONTIANAK—Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang kini menjabat Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), mengungkapkan kekagumannya terhadap penataan Kota Pontianak yang dinilainya hijau dan terorganisir, sebuah kondisi yang ia tautkan erat dengan nilai-nilai keagamaan masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan Kalla saat menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Masjid Indonesia Provinsi Kalimantan Barat di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat pada Kamis, 15 Januari 2026. Ia secara spesifik menyoroti pemandangan hutan kota yang terjaga sepanjang jalan, mengindikasikan kesadaran kolektif dalam pelestarian lingkungan. "Sepanjang jalan kita lihat, hutan-hutan kotanya terjaga. Ini mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan, dan itu bagian dari ajaran agama," ujar Jusuf Kalla, yang terkesan dengan wajah Pontianak yang hijau sejak memasuki kota.
Kesan Kalla ini bukanlah tanpa dasar. Kota Pontianak, yang terletak di garis Khatulistiwa, secara konsisten berupaya mengintegrasikan pembangunan fisik dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan harmoni sosial. Pada tahun 2025, Pontianak berhasil menduduki peringkat ke-12 nasional sebagai daerah paling berkelanjutan dalam ajang UI Green City Metric Ranking yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia, sebuah pencapaian yang mengakui kinerja unggulnya dalam pengelolaan lingkungan hidup. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyatakan bahwa penghargaan ini adalah bukti nyata dari kebijakan pembangunan yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan, serta hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat yang turut menjaga kebersihan, keasrian, dan kelestarian lingkungan.
Sejumlah program konkret telah dijalankan Pemerintah Kota Pontianak untuk mencapai status kota hijau. Revitalisasi tepian Sungai Kapuas dirancang menjadi ruang publik terbuka, sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terpadu Batu Layang disiapkan sebagai pusat pengelolaan sampah modern. Selain itu, Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat ditargetkan melayani 16.500 sambungan rumah hingga tahun 2030, menunjukkan komitmen terhadap sanitasi yang lebih baik. Upaya menjaga kualitas air Sungai Kapuas juga menjadi prioritas, mengingat sungai ini merupakan sumber utama air baku PDAM dan rentan terhadap perubahan warna akibat larutan gambut saat musim hujan. Partisipasi masyarakat juga didorong melalui Forum Komunitas Hijau (FKH) yang menaungi 25 komunitas lokal, yang berperan sebagai motor penggerak gerakan hijau dan agen perubahan di masyarakat.
Selain aspek lingkungan, Pontianak juga dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi kerukunan umat beragama. Mantan Wakil Presiden Kalla menekankan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan beragama, serta berharap nilai-nilai tersebut dipegang oleh pengurus DMI dalam menjalankan peran organisasi. Kota ini digambarkan sebagai "miniatur Indonesia" dengan keberagaman etnis yang tinggi, menaungi setidaknya 24 etnis yang hidup berdampingan dalam Paguyuban Merah Putih. Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Kalimantan Barat, termasuk Pontianak, mencapai 78,57 pada tahun 2023, menempatkannya pada posisi kedelapan nasional dan melampaui indeks rata-rata nasional. Wali Kota Edi Rusdi Kamtono menyoroti bahwa di Pontianak, masyarakat terbiasa hidup rukun berdampingan dengan agama yang berbeda, dengan beberapa rumah ibadah bahkan berdiri bertetangga. Wakil Wali Kota Bahasan menegaskan bahwa kerukunan multietnis ini dapat terwujud apabila semua elemen menjunjung tinggi nilai kebenaran, bukan semata membela suku atau kelompok.
Analisis terhadap pujian Jusuf Kalla dan data spesifik ini menunjukkan bahwa Pontianak tidak hanya berusaha menjadi kota yang ramah lingkungan, tetapi juga berhasil memupuk kohesi sosial melalui penguatan nilai-nilai keagamaan dan toleransi. Keterkaitan antara aspek kehijauan kota dan religiusitas yang disoroti Kalla mencerminkan filosofi pembangunan yang holistik, di mana kepedulian terhadap alam dianggap sebagai bagian integral dari iman dan etika. Implikasinya, pengakuan dari tokoh nasional seperti Jusuf Kalla dapat memperkuat citra Pontianak sebagai model kota yang mampu menyeimbangkan kemajuan fisik dengan kelestarian lingkungan dan keharmonisan sosial-keagamaan. Ke depan, tantangan urbanisasi dan perubahan iklim akan terus menekan lahan serta memicu risiko bencana, namun strategi yang tepat dan partisipasi aktif masyarakat, seperti yang sudah ditunjukkan Pontianak, menjadi kunci keberlanjutan pembangunan. Hal ini juga berpotensi menarik investasi hijau dan dukungan lebih lanjut untuk program-program berbasis lingkungan dan sosial.