Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dapur Umum dan Nakes Siaga: Pemkab Tangerang Respons Cepat Banjir Taman Cikande

2026-01-16 | 21:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T14:04:42Z
Ruang Iklan

Dapur Umum dan Nakes Siaga: Pemkab Tangerang Respons Cepat Banjir Taman Cikande

Ratusan rumah warga di Perumahan Taman Cikande, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banten, masih terendam banjir hingga Jumat, 16 Januari 2026, memasuki hari kelima sejak luapan Sungai Cidurian pada Senin lalu. Pemerintah Kabupaten Tangerang telah mendirikan dapur umum dan menyiagakan tenaga kesehatan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekitar 202 hingga 222 kepala keluarga terdampak yang menghadapi ketinggian air antara 60 sentimeter hingga 2 meter, bahkan mencapai 2,2 meter di beberapa titik.

Banjir yang melumpuhkan aktivitas warga, terutama para pekerja, ini diakibatkan oleh meluapnya aliran Sungai Cidurian yang belum menunjukkan tanda-tanda surut. Intensitas hujan yang masih kerap turun menyebabkan air kembali meninggi setelah sempat surut. Aliran air dari sistem drainase permukiman berbalik arah masuk ke rumah warga karena Sungai Cidurian penuh. Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, meninjau langsung lokasi banjir pada Jumat (16/1/2026), tidak hanya menyalurkan bantuan logistik, obat-obatan, dan perlengkapan bayi yang telah didistribusikan sejak Rabu (14/1/2026), tetapi juga turut serta memasak di dapur umum dan makan bersama warga di posko pengungsian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang juga telah menyiagakan perahu karet untuk membantu mobilitas dan distribusi bantuan.

Peristiwa banjir di Taman Cikande bukan merupakan kejadian tunggal, melainkan bagian dari pola banjir tahunan yang lebih luas di Kabupaten Tangerang. Data BPBD Kabupaten Tangerang menunjukkan bahwa banjir kali ini meluas hingga 24 dari total 29 kecamatan, dengan sekitar 10.000 kepala keluarga atau 50.000 jiwa terdampak secara global, dan sekitar 1.000 orang mengungsi ke fasilitas umum yang aman. Sebanyak 12 rumah dilaporkan rusak akibat terjangan banjir di berbagai lokasi. Kondisi ini mengindikasikan adanya masalah struktural dan lingkungan yang kompleks di samping faktor curah hujan tinggi. Bupati Maesyal Rasyid mengakui bahwa banjir juga disebabkan oleh alih fungsi lahan, berkurangnya daerah resapan air di wilayah hulu, serta kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Tangerang berencana untuk berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) guna membangun pintu air dan tanggul di sepanjang aliran Sungai Cidurian. Pembangunan pintu air ini dianggap krusial untuk mengatasi luapan Sungai Cidurian yang menjadi penyebab utama banjir langganan di Taman Cikande. Bupati menargetkan pembangunan ini dapat dimulai pada tahun anggaran 2026, paling lambat 2027, mengingat memerlukan perizinan dan koordinasi dengan pemerintah pusat sebagai pihak yang berwenang atas pengelolaan sungai besar. Upaya penanganan banjir, menurut Maesyal Rasyid, tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan lintas sektor dan sesuai dengan kewenangan yang berlaku. Sementara itu, masyarakat di posko pengungsian mulai merasakan kejenuhan akibat banjir yang tak kunjung surut, sebuah indikasi beban psikologis dan sosial yang ditanggung oleh korban bencana berulang.