Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Buaya Karang Anyar Renggut Nuriman: Pencarian Dihentikan, Duka Tak Terhingga

2026-01-17 | 11:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T04:19:43Z
Ruang Iklan

Buaya Karang Anyar Renggut Nuriman: Pencarian Dihentikan, Duka Tak Terhingga

Harapan untuk menemukan Nuriman (48), seorang nelayan dan ayah dua anak, sirna setelah operasi pencarian di Sungai Karang Anyar, Dusun Cabang Ruan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, secara resmi dihentikan pada Jumat, 16 Januari 2026. Nuriman diduga kuat menjadi korban serangan buaya muara setelah tidak kembali dari memancing sejak sekitar delapan hari sebelumnya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kekhawatiran yang meningkat di tengah komunitas yang hidup di tepian sungai.

Nuriman, yang dikenal sebagai sosok pekerja keras, berangkat memancing seperti biasa pada Senin, 12 Januari 2026, subuh, tanpa menyadari bahaya yang mengintai di perairan yang telah menjadi sumber penghidupannya. Sungai Karang Anyar, yang membelah desa mereka, selama ini menjadi nadi kehidupan bagi warga pesisir, namun juga menyimpan ancaman serius berupa populasi buaya muara (Crocodylus porosus) yang dikenal agresif. Kepala Dusun Cabang Ruan, Mus, menyatakan bahwa buaya memang kerap terlihat di lokasi kejadian dan sebelumnya beberapa kali mencoba menyerang warga, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa. Hilangnya Nuriman menambah daftar panjang insiden konflik manusia-buaya di wilayah tersebut.

Tim SAR gabungan, yang dikoordinasikan oleh Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, telah melakukan pencarian intensif selama tujuh hari, mengerahkan satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) serta peralatan evakuasi, medis, dan navigasi lengkap. Penyisiran dilakukan secara sistematis dari hulu hingga hilir, mencakup pemantauan visual di bantaran sungai dan analisis arus, namun terhambat oleh kondisi alam yang ekstrem, arus sungai yang deras, air yang sangat keruh, serta cuaca yang berubah-ubah. "Memasuki hari ketujuh operasi pencarian, tim SAR gabungan telah memperluas area pencarian di sepanjang alur sungai, baik ke arah hulu maupun hilir, serta melakukan pemantauan di titik-titik berpotensi menjadi lokasi korban. Namun hingga saat ini korban masih belum ditemukan," ujar I Made Junetra. Keputusan penghentian operasi diambil setelah evaluasi menyeluruh bersama keluarga korban dan seluruh unsur SAR, menyatakan Nuriman hilang dan membuka kembali pencarian jika ada informasi baru.

Tragedi ini menggarisbawahi eskalasi konflik antara manusia dan buaya di Kalimantan, sebuah fenomena yang semakin sering terjadi seiring dengan perubahan lanskap dan aktivitas manusia. Ahli Ekologi Satwa Liar dan Herpetologi dari IPB University, Mirza Kusrini, menjelaskan bahwa konflik ini sebagian besar dipicu oleh konflik ruang dan rusaknya habitat buaya di sungai. Ketika rantai makanan alami terganggu atau habitat mereka menyusut akibat pembangunan dan aktivitas seperti pertambakan atau permukiman di pinggir sungai, buaya cenderung merambah ke wilayah yang lebih dekat dengan manusia untuk mencari makan.

Data menunjukkan peningkatan signifikan dalam insiden serangan buaya. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit mencatat 43 kasus serangan buaya di Kotawaringin Timur (Kotim) sepanjang 2010-2021, dengan 7 korban meninggal dunia, dan serangan terbanyak terjadi pada 2020 dengan 15 kasus. Sementara itu, di Kabupaten Berau, delapan warga menjadi korban serangan buaya muara dalam enam bulan terakhir sebelum Juni 2025, dengan satu orang dilaporkan hilang dan satu lainnya dalam proses pencarian yang akhirnya dihentikan. Angka ini mencerminkan tren yang mengkhawatirkan, di mana serangan bukan lagi anomali, melainkan bagian dari realitas hidup di banyak komunitas sungai Kalimantan.

Respons pemerintah dan pihak terkait terhadap fenomena ini seringkali dikritik bersifat reaktif. Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Subandi, mendesak pemerintah daerah dan aparat konservasi sumber daya alam untuk mengambil tindakan segera dan konkret. "Keluhan dari masyarakat terkait serangan buaya seharusnya jadi perhatian pemerintah daerah. Tapi nyatanya hingga saat ini, masalah tersebut masih terus berulang tanpa solusi konkret. Banyak korban, terutama anak-anak, yang dimangsa buaya,” ungkap Subandi pada November 2024. Ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah daerah, kepolisian, dan BKSDA untuk merumuskan strategi pencegahan yang efektif, termasuk patroli pengamanan dan edukasi masyarakat.

Di sisi lain, Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, mengakui bahwa evakuasi buaya bukanlah solusi tuntas karena penangkaran sudah penuh. Ia menyerukan perlunya masyarakat beradaptasi dan memahami bahwa mereka hidup berdampingan dengan satwa liar, serta menekankan sinergi lintas sektor. Ombudsman RI juga menyoroti bahwa penanganan konflik buaya di Indonesia kerap bersifat reaktif dan harus diubah menjadi pendekatan yang lebih preventif, edukatif, dan partisipatif, dengan negara harus hadir untuk menjamin rasa aman warga sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

Penghentian pencarian Nuriman di Karang Anyar menyisakan trauma dan kekosongan. Ini bukan sekadar hilangnya seorang individu, melainkan cerminan dari tantangan kompleks dalam mengelola konflik antara pembangunan manusia dan kelestarian satwa liar. Tanpa strategi mitigasi yang komprehensif, terencana, dan berkelanjutan yang melibatkan kesadaran masyarakat, penegakan regulasi, serta restorasi habitat, Sungai Karang Anyar dan banyak sungai lain di Kalimantan akan terus menjadi saksi bisu atas duka yang disebabkan oleh ancaman yang tak kunjung teratasi.