Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Kendal Lumpuhkan Rel, Kereta Pantura Molor 2,5 Jam, KAI Sampaikan Penyesalan

2026-01-17 | 00:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T17:47:20Z
Ruang Iklan

Banjir Kendal Lumpuhkan Rel, Kereta Pantura Molor 2,5 Jam, KAI Sampaikan Penyesalan

Puluhan ribu penumpang kereta api di jalur Pantura Jawa Tengah menghadapi keterlambatan signifikan hingga 2,5 jam pada Jumat, 16 Januari 2026, setelah rel kereta di antara Stasiun Kaliwungu dan Kalibodri, Kabupaten Kendal, terendam banjir setinggi kepala rel akibat hujan deras. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyampaikan permohonan maaf atas gangguan yang mempengaruhi 18 perjalanan kereta api antarkota tersebut. Insiden ini dimulai sejak Kamis malam, 15 Januari 2026, ketika curah hujan ekstrem menyebabkan luapan beberapa sungai, termasuk Sungai Waridin, membanjiri enam kecamatan di Kendal dan merusak prasarana kereta api dengan "gogosan" atau erosi di jalur rel.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan penghentian sementara operasional kereta dilakukan sebagai langkah pengamanan demi keselamatan pelanggan dan perjalanan kereta api. Kereta api yang mengalami keterlambatan antara lain KA Kertajaya selama 132 menit, KA Joglosemarkerto 123 menit, KA Argo Sindoro 90 menit, dan KA Angkutan Barang 86 menit. Selain itu, KA Kaligung terlambat 52-105 menit, KA Majapahit 57 menit, dan KA Ceremai Ekspres 48 menit. Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menambahkan bahwa luapan air menyebabkan jalur terendam hingga batas kepala rel, mengakibatkan sejumlah KA dari arah barat ke timur maupun sebaliknya harus dihentikan sementara.

Banjir di Kendal bukan fenomena baru. Kabupaten ini, yang terletak di wilayah Pantura Jawa Tengah, sering menjadi langganan banjir akibat kombinasi hujan deras, luapan sungai, dan terkadang pasang air laut (rob) yang menghambat aliran sungai ke laut. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal menunjukkan enam kecamatan terdampak banjir, meliputi Ngampel, Pegandon, Brangsong, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, dan Kendal Kota, dengan genangan air mencapai 20-60 sentimeter di permukiman warga. Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo, menyatakan intensitas hujan yang tinggi bersamaan dengan pasang air laut meningkatkan risiko banjir yang lebih parah.

Meskipun jalur antara Stasiun Kaliwungu dan Kalibodri dapat dilintasi kembali pada Jumat dini hari setelah hujan mereda dan perbaikan awal dilakukan, perjalanan kereta api masih diberlakukan pembatasan kecepatan maksimal 30-40 kilometer per jam untuk memastikan keamanan. Pejabat Yang Melaksanakan Tugas (PYMT) Executive Vice President of Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudyo, memastikan perjalanan kereta api di jalur Pantura Jawa Tengah berangsur normal, namun petugas tetap melakukan pemantauan dan perbaikan lanjutan.

Gangguan berulang akibat bencana hidrometeorologi seperti banjir menunjukkan urgensi mitigasi infrastruktur transportasi yang lebih tangguh. KAI sendiri telah mengidentifikasi 131 titik rawan banjir dan longsor di Pulau Jawa, dengan Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang, yang mencakup Kendal, sebagai wilayah paling rentan. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin pada Desember 2025 lalu menyampaikan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya mitigasi, termasuk meninggikan posisi rel di titik rawan banjir seperti di Kilometer 2 Jalan Kaligawe, Semarang. Namun, peristiwa di Kendal ini menggarisbawahi bahwa ancaman cuaca ekstrem memerlukan solusi jangka panjang dan terintegrasi, tidak hanya oleh KAI tetapi juga melibatkan pemerintah daerah dalam pengelolaan tata ruang dan sistem drainase yang komprehensif. Implikasi terhadap rantai logistik dan mobilitas penumpang regional serta nasional menuntut kolaborasi multi-sektoral untuk membangun ketahanan infrastruktur di tengah tantangan perubahan iklim global.