Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Karawang Landa Ratusan Keluarga Pasca Tanggul Kalimalang Jebol

2026-01-17 | 00:54 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T17:54:03Z
Ruang Iklan

Banjir Karawang Landa Ratusan Keluarga Pasca Tanggul Kalimalang Jebol

Ratusan keluarga di Desa Margakarya, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat, menghadapi dampak serius setelah tanggul Sungai Kalimalang jebol pada Jumat, 16 Januari 2026 pagi. Insiden yang dilaporkan terjadi sekitar pukul 05.30 WIB ini menyebabkan luapan air merendam permukiman warga, dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 70 sentimeter di beberapa titik. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Usep Supriatna, mengonfirmasi bahwa sekitar 400 Kepala Keluarga (KK) terdampak bencana ini, mendorong upaya evakuasi mendesak bagi kelompok rentan serta pengamanan harta benda.

Titik tanggul yang jebol berada di wilayah Telukjambe Barat, awalnya dilaporkan mengalami keretakan sekitar dua meter sebelum kemudian melebar hingga lima sampai enam meter, memungkinkan air meluap deras ke sipon saluran sekunder Cisalak dan menggenangi Dusun Cisalak, Desa Margakaya. Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, yang langsung meninjau lokasi, menyatakan bahwa usia tanggul yang sudah tua menjadi faktor utama penyebab jebolnya infrastruktur tersebut. Beberapa rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga ambruk akibat kuatnya arus air.

Dalam penanganan darurat, BPBD Karawang telah mengerahkan perahu karet untuk membantu proses evakuasi warga dan berkoordinasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Material seperti bronjong dan karung pasir dikirimkan ke lokasi untuk membangun tanggul sementara, sekaligus meminta PJT II Jatiluhur untuk menutup salah satu pintu bendungan guna mengurangi debit air yang mengalir ke Sungai Kalimalang. Bupati Aep juga menegaskan pentingnya perbaikan permanen oleh BBWS Citarum terhadap tanggul yang rusak tersebut.

Peristiwa jebolnya tanggul Kalimalang ini bukan kali pertama bagi Karawang. Wilayah Telukjambe Barat, lokasi kejadian, memiliki riwayat panjang dilanda banjir. Data dari BPBD Karawang menunjukkan Telukjambe Barat dan Telukjambe Timur sering mengalami genangan air hingga 150-200 sentimeter dalam beberapa tahun terakhir, dengan banjir hampir merendam seluruh kecamatan pada tahun 2020. Transformasi penggunaan lahan akibat pembangunan industri di kedua kecamatan tersebut juga diidentifikasi sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko banjir. Pemerintah Kabupaten Karawang sendiri telah menetapkan Status Siaga Darurat Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, Gelombang Ekstrem dan Abrasi Pantai, serta Tanah Longsor untuk periode 2024/2025, yang berlaku dari 8 November 2024 hingga 31 Mei 2025. Deklarasi ini mengindikasikan pengakuan akan kerentanan daerah tersebut terhadap bencana hidrometeorologi, sebuah masalah yang mengakar dalam sejarah panjang wilayah ini, bahkan sejak era Kerajaan Tarumanegara.

Kerusakan tanggul akibat faktor usia menyoroti tantangan pemeliharaan infrastruktur vital di tengah ancaman perubahan iklim dan intensitas hujan yang meningkat. Para ahli dan pembuat kebijakan secara umum telah menyerukan solusi jangka panjang yang berbasis ilmu pengetahuan untuk mitigasi banjir, mencakup pembangunan infrastruktur tangguh, perlindungan lingkungan, dan pengelolaan limbah yang efektif. Kejadian di Karawang ini mempertegas urgensi investasi berkelanjutan dalam infrastruktur pencegahan banjir, serta evaluasi komprehensif terhadap kondisi tanggul dan sistem irigasi, agar masyarakat tidak terus-menerus menanggung beban berulang dari bencana yang dapat dicegah.