:strip_icc()/kly-media-production/medias/5457161/original/028853900_1766989468-panti_terbakar.jpg)
Upaya identifikasi korban jiwa tragedi kebakaran Panti Werdha Damai di Manado, Sulawesi Utara, kini difokuskan pada metode tes DNA setelah kondisi 15 dari 16 jenazah ditemukan hangus terbakar dan sulit dikenali secara fisik. Peristiwa nahas yang terjadi pada Minggu malam, 28 Desember 2025, sekitar pukul 20.36 WITA ini menewaskan belasan lansia penghuni panti di Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Utara bersama Polresta Manado telah bergerak cepat mengevakuasi seluruh jenazah ke Rumah Sakit Bhayangkara Manado untuk proses forensik.
Kepala Bidang Dokkes Polda Sulut, AKBP dr. Tasrif, mengungkapkan bahwa tes DNA menjadi harapan utama dalam mengungkap identitas para korban. "Kami akan mengambil sampel DNA keluarga dan juga korban. Karena bukti primer sebagai alat identifikasi berupa sidik jari tidak memungkinkan lagi sehingga kami sangat berharap akan dilaksanakan identifikasi melalui DNA," jelas dr. Tasrif pada Senin, 29 Desember 2025. Proses ini memerlukan partisipasi aktif keluarga korban untuk memberikan sampel pembanding, yang dapat berupa data riwayat berobat, rekam medik gigi, atau ijazah yang memuat sidik jari. Namun, tantangan muncul mengingat sebagian penghuni panti merupakan individu yang hidup sebatang kara, menyulitkan pengambilan sampel DNA dari kerabat dekat. Untuk mengatasi kendala ini, tim gabungan juga mempertimbangkan data registrasi panti dan lokasi penemuan jenazah sebagai informasi penunjang identifikasi. Sampel DNA korban telah diambil dan dijadwalkan akan dikirim ke Pusdokkes Polri di Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut karena keterbatasan fasilitas di Manado.
Kebakaran di Panti Werdha Damai, yang dihuni 35 lansia dan 31 di antaranya berada di lokasi saat kejadian, tidak hanya menyisakan duka mendalam tetapi juga menyoroti standar keselamatan fasilitas sosial bagi kelompok rentan. Api yang diduga berasal dari area dapur di lantai atas bangunan panti, dengan cepat membesar dan melalap ruangan, diperparah oleh laporan pemadaman listrik sesaat sebelum kejadian. Sekretaris Daerah Kota Manado, Steaven Dandel, menyatakan bahwa pemerintah kota akan mengevaluasi secara menyeluruh fasilitas pencegahan kebakaran di panti jompo, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta. Insiden ini, yang terjadi saat sebagian besar penghuni lansia sedang tidur dan memiliki mobilitas terbatas, menggarisbawahi urgensi peningkatan sistem keamanan dan kesiapsiagaan darurat untuk melindungi warga lanjut usia di panti. Penyelidikan mengenai penyebab pasti kebakaran masih terus dilakukan oleh Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Sulut. Sementara itu, Pemerintah Kota Manado telah memastikan akan menanggung seluruh biaya perawatan korban selamat dan memfasilitasi proses pemakaman bagi korban meninggal.