:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456769/original/008884900_1766967629-199268.jpg)
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi sejak Minggu, 28 Desember 2025, siang memicu banjir bandang dan longsor di Kecamatan Nyalindung, menyebabkan Kampung Karikil di Desa Bojongsari terisolasi total setelah jembatan akses utama hanyut diterjang arus deras. Insiden ini, yang juga disertai pemadaman listrik di sejumlah desa, memaksa warga terdampak mengungsi dan menyulitkan upaya pendataan serta penyaluran bantuan darurat.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Nyalindung dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Ebol, mengonfirmasi bahwa jembatan penghubung di Kampung Karikil, Desa Bojongsari, tidak dapat dilalui setelah tersapu banjir bandang, mengakibatkan satu kampung terputus aksesnya. "Betul, di wilayah Kecamatan Nyalindung tepatnya di Kampung Karikil ada jembatan yang terbawa banjir bandang sehingga satu kampung terisolasi," kata Ebol. Longsor juga dilaporkan terjadi di Kampung Karikil RT 01, menimbun beberapa rumah dan mendorong evakuasi seluruh warga ke Majelis Taklim Al-Istiqomah. Hingga Minggu malam, akses menuju Kampung Karikil masih tertutup, menghambat tim gabungan untuk melakukan pendataan rinci dampak bencana di lokasi. "Untuk data riil kami masih mengumpulkan dari lokasi lain karena belum bisa menembus ke sana. Akses jalan semuanya tertutup, jembatan hilang terbawa arus deras," ujar Ebol. Kampung-kampung lain di Nyalindung seperti Cogadog dan Cipiit juga dilaporkan terisolasi akibat putusnya jembatan dan akses jalan.
Peristiwa ini menjadi bagian dari serangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah Sukabumi. Pada hari yang sama, banjir juga merendam permukiman dan jalan di Cireunghas, menyebabkan lalu lintas terganggu. Di Kecamatan Purabaya, luapan Sungai Cimerang merendam rumah dan persawahan di Kampung Cimerang Hilir, dengan ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter. Warga setempat, Misbah (48), menyebut banjir ini sebagai kejadian langka yang terakhir terjadi puluhan tahun lalu, memaksa sejumlah warga mengungsi ke rumah kerabat. Luapan Sungai Cimerang juga menghanyutkan 14 ekor domba dan kambing serta menyebabkan satu keluarga di Kampung Cieusing mengungsi.
Hujan intensitas tinggi yang terus-menerus menjadi pemicu utama banjir bandang kali ini. Namun, pola bencana hidrometeorologi di Sukabumi seringkali diperparah oleh faktor antropogenik. Deputi Bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, pernah menyebutkan curah hujan ekstrem dan bibit siklon tropis sebagai penyebab banjir bandang di Sagaranten pada Desember 2024. Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dikky Achmad Sidik, mengaitkan banjir bandang di Cicurug pada September 2020 dengan durasi hujan singkat berintensitas tinggi yang meningkatkan debit aliran sungai. Mantan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, juga pernah menyoroti pembukaan lahan sebagai penyebab banjir bandang di Cisolok pada Oktober 2025, mengindikasikan kerusakan alam akibat aktivitas manusia. Plh Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Anne Hermadianne, pada Desember 2024, mengkategorikan banjir Sukabumi sebagai yang terparah dalam satu dekade terakhir, menekankan perlunya introspeksi terhadap kegiatan ekonomi yang merusak alam. Faktor lain seperti pendangkalan sungai akibat penumpukan sampah, penyempitan aliran sungai, dan tersumbatnya drainase turut memperburuk kondisi banjir limpasan di Sukabumi, sebagaimana diungkapkan Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Novian Rahmat Taufik, dalam peninjauan titik rawan banjir pada Mei 2025.
Terisolasinya Kampung Karikil menyoroti kerentanan infrastruktur di daerah rawan bencana dan tantangan dalam upaya tanggap darurat. Dengan putusnya akses jalan, pengiriman logistik, medis, dan tim evakuasi menjadi sangat sulit, berpotensi memperpanjang penderitaan warga. Kejadian berulang ini juga menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana yang lebih komprehensif, bukan hanya pada respons pasca-kejadian. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, yang baru menjabat pada Oktober 2025, telah menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketangguhan daerah dalam menghadapi berbagai potensi bencana melalui perencanaan terstruktur, peningkatan kapasitas aparatur, dan koordinasi solid dengan para pemangku kepentingan. Namun, tanpa tindakan pencegahan yang melibatkan konservasi lingkungan, penataan ruang yang berkelanjutan, dan edukasi masyarakat, ancaman banjir bandang dan longsor akan terus menghantui wilayah Jawa Barat bagian selatan ini, khususnya saat memasuki puncak musim hujan. Pemerintah daerah dan masyarakat harus bersinergi dalam menjaga keseimbangan alam dan membangun infrastruktur yang tangguh agar kejadian serupa tidak terus berulang dengan dampak yang semakin parah.