:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456020/original/019921100_1766766490-Petugas_Jakbar.jpeg)
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta akan mengerahkan sebanyak 3.395 personel kebersihan untuk mengantisipasi lonjakan timbulan sampah saat perayaan malam pergantian Tahun Baru 2026, sebuah langkah preventif rutin yang diambil pemerintah provinsi guna memastikan kebersihan ibu kota tetap terjaga sebelum aktivitas normal warga dimulai pada pagi harinya. Penyiagaan ribuan petugas ini menjadi indikasi kuat terhadap pola konsumsi dan penanganan sampah masyarakat Jakarta yang terus memerlukan intervensi masif pasca-perayaan tahunan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengonfirmasi pengerahan personel tersebut, dengan 2.300 di antaranya akan disiagakan di kawasan-kawasan strategis seperti Monumen Nasional (Monas), Bundaran HI, dan sepanjang koridor MH Thamrin–Sudirman. Sisanya, 1.095 petugas, akan disebar di lima wilayah administrasi Jakarta dan Kepulauan Seribu. Selain kekuatan personel, DLH DKI Jakarta juga menyiapkan armada pendukung berupa 17 unit mobil lintas, 43 truk pengangkut sampah tipe typer, 29 unit road sweeper, 24 unit bus toilet, 135 dust bin, serta 3.395 kantong plastik dan sapu lidi yang ditempatkan di titik-titik keramaian. Persiapan ini menyoroti skala tantangan kebersihan yang selalu muncul seiring perayaan massal.
Secara historis, perayaan malam tahun baru di Jakarta selalu menyisakan timbunan sampah yang signifikan. Pada Malam Tahun Baru 2025, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat total 132 ton sampah terkumpul, sedikit meningkat dari 130 ton pada Malam Tahun Baru 2024. Angka 132 ton tersebut bahkan lebih rendah dari proyeksi awal 150 ton untuk perayaan 2025, yang diakibatkan oleh kondisi cuaca cerah dan partisipasi warga yang mulai menerapkan imbauan minim sampah. Untuk Malam Tahun Baru 2026, Asep Kuswanto memprediksi timbulan sampah akan menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini didasari oleh kebijakan pelarangan kembang api serta konsep perayaan yang lebih menonjolkan solidaritas sosial, doa bersama, dan penggalangan dana. Prediksi ini, jika terealisasi, akan menjadi indikator awal perubahan perilaku publik.
Meskipun pengerahan petugas kebersihan menjadi solusi cepat untuk memulihkan kebersihan kota, pendekatan ini memunculkan kritik mengenai keberlanjutan strategi pengelolaan sampah di Jakarta. Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Husen, pada pertengahan Desember 2025, telah mengingatkan pemerintah provinsi untuk mengantisipasi secara maksimal penanganan sampah karena potensi lonjakan volume yang besar. Beberapa pihak mengkhawatirkan bahwa pengerahan ribuan personel hanyalah solusi darurat tahunan, bukan penyelesaian masalah sampah dari akar, terutama dengan dominasi sampah plastik yang masih ditemukan pada perayaan-perayaan sebelumnya. Ketergantungan pada pengerahan pasukan oranye secara masif menunjukkan bahwa edukasi publik, pembatasan sampah sekali pakai, dan pengawasan ketat saat perayaan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah kota.
Para petugas kebersihan dijadwalkan mulai bersiaga di titik-titik keramaian paling lambat satu jam sebelum pergantian tahun, dengan target untuk memastikan seluruh lokasi perayaan, jalanan, dan tempat wisata bersih pada pagi hari awal tahun baru. Upaya ini juga didukung oleh lintas instansi, seperti Perumda PAM Jaya yang menyiagakan armada tangki air bersih, Perumda PAL Jaya dengan kendaraan pengangkut air kotor, serta Satpol PP dan Dinas Perhubungan yang mendukung pengamanan dan pengaturan jalur pasca-acara. Kolaborasi antarlembaga ini esensial untuk menjaga ketertiban dan kebersihan kota di tengah euforia perayaan. Namun, tantangan jangka panjang tetap berada pada bagaimana menggeser paradigma dari sekadar membersihkan menjadi secara proaktif mengurangi produksi sampah di sumbernya.