Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pelatih Valencia FC B dan 3 Anaknya Tewas dalam Tragedi KM Putri Sakinah di Labuan Bajo

2025-12-28 | 15:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T08:56:22Z
Ruang Iklan

Pelatih Valencia FC B dan 3 Anaknya Tewas dalam Tragedi KM Putri Sakinah di Labuan Bajo

Tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat malam, 26 Desember 2025, menewaskan Fernando Martin Carreras, 44 tahun, pelatih Valencia CF Femenino B, bersama tiga anaknya. Insiden tragis ini terjadi sekitar pukul 20.30 hingga 21.00 WITA, saat kapal diterjang gelombang tinggi secara tiba-tiba setelah mengalami mati mesin, menurut keterangan resmi pihak berwenang.

Kapal berjenis semi pinisi tersebut mengangkut total 11 orang, terdiri dari enam wisatawan asing, empat anak buah kapal (ABK), dan satu pemandu wisata. Dari jumlah tersebut, tujuh orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, termasuk istri Fernando Martin, Mar Martinez Ortuno, dan satu putrinya, Ortuno Andrea yang berusia tujuh tahun, serta seluruh kru kapal dan pemandu wisata. Namun, Fernando Martin Carreras bersama tiga anaknya yang berusia delapan, sembilan, dan dua belas tahun, dinyatakan meninggal dunia setelah kapal terbalik dan tenggelam dengan cepat di Selat Padar. Valencia CF telah mengonfirmasi kabar duka ini melalui pernyataan resmi klub, menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian salah satu pelatih mereka.

Kronologi kejadian menunjukkan KM Putri Sakinah sedang dalam perjalanan dari Pulau Kalong menuju Pulau Padar untuk agenda pendakian pagi hari berikutnya. Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, menjelaskan kapal mengalami mati mesin di tengah gelombang laut setinggi lebih dari dua meter yang muncul secara tiba-tiba, yang dikenal sebagai 'swell'. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan terkait potensi gelombang tinggi di perairan Labuan Bajo hingga akhir Desember 2025, dipicu oleh pengaruh bibit siklon tropis 96S. Proses pencarian dan evakuasi sempat mengalami kesulitan akibat kondisi cuaca ekstrem, termasuk gelombang tinggi antara 0,25 hingga 1,5 meter, arus laut yang kuat, dan hujan lebat yang membatasi jarak pandang, menurut Kepala Kantor Basarnas Maumere, Fathur Rahman. Tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, KSOP Labuan Bajo, Lanal Maumere, dan Ditpolair Polda NTT menemukan beberapa puing kapal, termasuk tabung gas, serpihan lambung kapal, dan bagian kamar nakhoda, yang tersebar dalam radius sekitar lima mil laut dari lokasi kejadian.

Tragedi ini menyoroti kembali isu krusial mengenai keselamatan maritim di Labuan Bajo, salah satu destinasi pariwisata super prioritas Indonesia. Meskipun pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Perhubungan, telah berupaya menegakkan regulasi dan standardisasi keselamatan kapal wisata, insiden seperti ini masih berulang. Dalam periode 2024-2025 saja, setidaknya 15 insiden besar kecelakaan kapal wisata dilaporkan terjadi di perairan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, dengan faktor cuaca buruk menjadi penyebab umum. KSOP Kelas III Labuan Bajo sendiri telah mengeluarkan notice to mariner (NtM) yang menutup sementara pelayaran ke Pulau Padar dan Pulau Komodo pasca-insiden ini, menegaskan kembali pentingnya mematuhi prakiraan cuaca dan peringatan dini.

Kurangnya kepatuhan terhadap standar keselamatan dan abainya terhadap peringatan cuaca buruk seringkali menjadi akar masalah kecelakaan laut di Nusa Tenggara Timur. Ketua Komunitas Nelayan Angsa Laut Kelurahan Oesapa Kota Kupang, Moehmad Mansur Dokeng, pernah menyatakan bahwa kecelakaan di perairan NTT tidak akan pernah selesai karena dua faktor utama: cuaca buruk dan keteledoran manusia. Kejadian tenggelamnya KM Putri Sakinah menjadi pengingat pahit akan kebutuhan mendesak untuk secara konsisten menerapkan aspek dan standar keselamatan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability), Safety, dan Security, serta menyiapkan fasilitas darurat yang memadai di setiap kapal wisata. Pengawasan yang lebih ketat, penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran, serta edukasi berkelanjutan bagi operator dan wisatawan adalah langkah-langkah esensial untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan, demi menjaga reputasi dan keamanan pariwisata bahari Labuan Bajo.