:strip_icc()/kly-media-production/medias/5451614/original/002530300_1766316987-Aktivitas_Merapi_Meningkat__Empat_Kali_Awan_Panas_Guguran_Teramati.jpeg)
Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta meningkat signifikan pada Minggu, 21 Desember 2025, ditandai dengan teramatinya empat kali awan panas guguran ke sektor barat daya. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa peristiwa ini terjadi sepanjang Minggu sore, mengindikasikan suplai magma dari kedalaman masih aktif dan potensi bahaya tetap tinggi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa awan panas guguran tersebut memiliki amplitudo antara 11 hingga 25 milimeter dengan durasi 108,64 hingga 133,81 detik. Seluruh awan panas meluncur ke arah barat daya melalui alur Kali Bebeng dan Kali Boyong, mencapai jarak maksimum 1.200 meter dari puncak Merapi. Selain awan panas, pengamatan visual pagi hari juga mencatat enam kali guguran lava ke arah barat daya dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter menuju Kali Sat dan Kali Krasak.
Gunung Merapi saat ini masih berstatus Siaga (Level III), sebuah status yang telah berlaku sejak lama mengingat karakter Merapi sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Status ini menunjukkan bahwa suplai magma terus berlangsung, menjaga potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran tetap tinggi, terutama di sektor selatan-barat daya. BPPTKG merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya.
Secara historis, Merapi memiliki riwayat erupsi eksplosif maupun efusif yang merusak. Erupsi besar pada tahun 2010 misalnya, memaksa evakuasi puluhan ribu jiwa dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur luas. Indonesia sendiri memiliki 127 gunung api aktif, dengan 15 juta penduduk tinggal di sekitar gunung berapi berstatus Waspada dan Siaga. Merapi bersama Semeru dan Lewotobi Laki-laki menjadi tiga gunung api di Indonesia yang saat ini berstatus Level III atau Siaga.
Peningkatan aktivitas ini krusial bagi penduduk di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang tinggal di lereng Merapi, terutama mengingat potensi bahaya sekunder seperti lahar dingin yang meningkat selama musim hujan. Curah hujan sedang hingga tinggi yang mengguyur lereng selatan Merapi pada Minggu siang turut meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar di sungai-sungai berhulu Merapi. Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa kondisi ini berpotensi memicu bahaya lahar di sungai serta awan panas guguran di kawasan rawan bencana.
Implikasi jangka panjang dari aktivitas Merapi yang berkelanjutan mencakup perlunya adaptasi masyarakat dan pemerintah terhadap ancaman bencana yang terus-menerus. Kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi teknis dari otoritas seperti BPPTKG menjadi kunci vital untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian. Pemantauan ketat akan terus dilakukan menjelang akhir tahun, periode di mana mobilitas masyarakat meningkat dan bertepatan dengan puncak musim hujan.