:strip_icc()/kly-media-production/medias/5417712/original/030298700_1763543911-gunung_semeru.png)
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Rabu, 19 November 2025, pukul 16.00 WIB, dengan menyemburkan kolom abu vulkanik dahsyat setinggi 2.000 meter di atas puncak kawah Jonggring Saloka, atau sekitar 5.676 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah utara dan barat laut.
Erupsi ini tidak hanya menghasilkan kolom abu yang membubung tinggi, tetapi juga disertai dengan luncuran awan panas yang mencapai jarak 7 kilometer dari puncak dan masih berlangsung saat laporan dibuat. Aktivitas erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sementara sekitar 16 menit 40 detik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah melaporkan peningkatan energi dari pusat erupsi Gunung Semeru.
Pada saat erupsi dahsyat ini, status Gunung Semeru berada pada Level II (Waspada). Namun, beberapa hari kemudian, statusnya meningkat hingga Level IV (Awas) pada Jumat, 21 November 2025, menurut laporan dari iNews Terkini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan dampak erupsi meluas, menyebabkan tiga warga mengalami luka berat akibat terpapar abu vulkanik. Mereka saat ini menjalani perawatan di RSUD Dr. Haryoto, Lumajang.
Kerusakan infrastruktur juga dilaporkan cukup parah. Ratusan rumah warga, terutama di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, tertimbun abu vulkanik, dengan 21 unit di antaranya rusak parah. Selain itu, lahan pertanian seluas lebih dari 204 hektare juga mengalami kerusakan. Fasilitas umum seperti Sekolah Dasar Negeri Supiturang 02, tujuh musala, dan taman pendidikan Al-Quran (TPQ) turut mengalami kerusakan. Erupsi ini juga mengakibatkan kematian empat ekor sapi dan 139 ekor kambing.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, mengimbau masyarakat untuk mematuhi rekomendasi resmi, termasuk larangan beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 8 kilometer dari pusat erupsi. Masyarakat juga diminta menjaga jarak 500 meter dari tepi sungai karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 13 kilometer dari puncak. Selain itu, aktivitas dalam radius 2,5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru harus dihindari karena rawan lontaran batu pijar.
Kewaspadaan juga ditekankan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan. Pendakian Gunung Semeru telah ditutup sampai kondisi dinyatakan aman, dan sebanyak 187 orang terdiri atas pendaki, porter, pemandu, serta petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TBNTS) sempat mengamankan diri di Ranukumbolo saat erupsi. Tim SAR Kelas A Surabaya telah menurunkan dua tim penyelamat untuk membantu evakuasi dan penanganan darurat di pos pengungsian Candipuro, Lumajang.
BNPB juga telah memperkuat sistem peringatan dini dan jalur evakuasi di kawasan rawan Semeru sejak tahun 2022, termasuk menambah sensor vulkanik dan membentuk desa siaga bencana, untuk menghadapi potensi bahaya sekunder seperti banjir lahar dingin, terutama saat musim hujan. Sepanjang tahun 2025, Gunung Semeru tercatat sudah meletus sebanyak 2.802 kali, menjadikannya salah satu gunung paling aktif di Indonesia.