:strip_icc()/kly-media-production/medias/5457716/original/099597900_1767018181-Tim_SAR_gabungan_Yapen.jpeg)
Tim pencarian dan penyelamatan gabungan memasuki hari kelima operasi besar-besaran di perairan Tanjung Andei, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, pada Senin, 29 Desember 2025, dalam upaya menemukan 17 penumpang yang masih dinyatakan hilang setelah sebuah speedboat terbalik pada malam Natal, Rabu, 24 Desember 2025. Insiden tragis ini, yang dipicu oleh hantaman angin kencang dan gelombang tinggi, telah menewaskan satu orang dan menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.
Speedboat bermesin 40 PK tersebut mengangkut 21 penumpang saat bertolak dari Kota Serui menuju Kampung Waindu sekitar pukul 16.30 WIT. Sekitar empat jam kemudian, pada pukul 20.00 WIT, kapal nahas itu diduga dihantam cuaca buruk hingga terbalik dan mengalami kebocoran di perairan Waindu. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, menjelaskan bahwa informasi kejadian baru diterima kepolisian pada Kamis, 25 Desember 2025. Dari total penumpang, tiga orang berhasil ditemukan selamat oleh warga setempat dan tim SAR. Mereka adalah Usman Asis (37), Santi Rontini (26), dan Hengki Injoroweri (40). Satu korban meninggal dunia, Sarah Injoroweri (12), ditemukan pada Sabtu, 27 Desember 2025, dan telah dimakamkan di kampung halamannya di Waindu.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Biak, Kundori, menyatakan bahwa tim gabungan telah mengerahkan 185 personel dan memperluas area penyisiran hingga 600 mil laut persegi. Upaya pencarian melibatkan Helikopter Super Puma milik TNI AU yang menyisir area udara seluas 250 mil laut persegi dengan metode parallel search pattern. Di permukaan laut, kekuatan besar dikerahkan termasuk KRI Panah-626 milik Guskamla Koarmada III Biak, KN SAR Wibisana, unit Rigid Buoyancy Boat (RBB) milik Basarnas, serta 15 unit perahu motor milik masyarakat lokal yang mengenal medan perairan. Selain itu, tim juga menggunakan Drone Thermal untuk mendeteksi suhu tubuh di permukaan air dan menyiagakan enam penyelam ahli dari personel Basarnas dan Yonko 468 Kopasgat untuk kemungkinan penemuan di bawah air. Kundori menekankan pentingnya koordinasi antara tim permukaan dan udara, dengan fokus pada zona-zona yang berdasarkan analisis SAR Map menjadi titik kemungkinan korban terbawa arus dan angin.
Tragedi ini menyoroti kerentanan navigasi di perairan timur Indonesia, khususnya Papua, yang seringkali dihadapkan pada kondisi geografis menantang dan perubahan cuaca ekstrem yang tiba-tiba. Wilayah perairan Kepulauan Yapen dikenal memiliki arus kuat dan gelombang tinggi, terutama selama musim angin tertentu. Insiden serupa bukan kali pertama terjadi, menunjukkan adanya tantangan berkelanjutan dalam aspek keselamatan pelayaran di daerah terpencil. Meskipun Kementerian Perhubungan telah menerbitkan peraturan terkait standar keselamatan pelayaran, seperti Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2015, dan secara berkala mengampanyekan keselamatan serta membagikan alat keselamatan di wilayah Papua, kepatuhan dan implementasi di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah. Kurangnya aksesibilitas dan infrastruktur yang memadai di beberapa daerah juga memperumit upaya pencegahan dan respons cepat dalam kecelakaan laut.
Polda Papua telah mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna transportasi laut, untuk sementara waktu tidak melakukan aktivitas melaut hingga kondisi cuaca dinyatakan aman. Imbauan ini menjadi krusial mengingat prakiraan cuaca yang tidak menentu. Keluarga dari 17 penumpang yang masih hilang, termasuk anggota keluarga besar Injoroweri serta warga seperti Yakoba Swom dan Arius Mabui, terus menanti kepastian. Operasi pencarian diperkirakan akan terus menghadapi tantangan arus laut yang kuat dan luasnya area penyisiran, namun komitmen tim SAR gabungan tetap tinggi untuk menemukan seluruh korban.