:strip_icc()/kly-media-production/medias/5176558/original/079173800_1743115244-20250328-Merak-HER_1.jpg)
Pelabuhan Merak saat ini menghadapi kondisi sulit, di mana kapal-kapal penyeberangan mengalami kesulitan untuk bersandar di dermaga akibat cuaca ekstrem yang melanda Perairan Selat Sunda. Angin kencang dan gelombang tinggi menjadi faktor utama yang menghambat proses sandar kapal, sehingga berdampak signifikan pada operasional pelabuhan dan jadwal penyeberangan.
Sejumlah laporan terkini pada pertengahan Desember 2025 menunjukkan bahwa kondisi cuaca buruk ini masih terus berlangsung. Angin kencang dengan kecepatan mencapai 20-25 knot/s dari arah selatan ke barat daya, serta gelombang tinggi, diperparah dengan adanya arus kuat ke arah timur laut berkecepatan sekitar 1,5-2 m/s, menyebabkan kapal membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan manuver sandar. Beberapa kapal bahkan dilaporkan sempat gagal bersandar dan menabrak fasilitas dermaga akibat hantaman gelombang dan angin.
Dampak langsung dari kondisi ini adalah terjadinya antrean panjang kendaraan yang mengular, terutama truk-truk ekspedisi, di area menuju Pelabuhan Merak. Antrean kendaraan terpantau hingga beberapa kilometer, bahkan mencapai 4 kilometer dari titik penyekatan. Kepadatan juga terjadi di kantong-kantong dermaga. Selain itu, cuaca ekstrem menyebabkan penundaan jadwal keberangkatan dan kedatangan kapal selama 2-4 jam, mengganggu proses bongkar muat, serta mengakibatkan kapal berkapasitas kecil tidak dapat dioperasikan.
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Shelvy Arifin, sebelumnya menjelaskan bahwa hambatan kapal untuk sandar dikarenakan cuaca yang kurang baik, meskipun seluruh dermaga beroperasi. General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak, Rudi Sunarko, membenarkan bahwa hanya kapal berkapasitas besar yang masih bisa dioperasikan untuk menahan gelombang tinggi. Pihak PT ASDP juga meminta kesabaran pengguna jasa atas situasi ini. Meskipun demikian, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banten memastikan tidak ada penutupan pelabuhan, dengan harapan kelancaran angkutan Natal dan Tahun Baru tetap terjaga. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri telah mengeluarkan peringatan dini level II terkait kondisi cuaca ekstrem di perairan Selat Sunda.