:strip_icc()/kly-media-production/medias/5447059/original/036010900_1765947573-189031.jpg)
Hutan Gunung Salak di Blok Cangkuang, Desa Cidahu, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan mengalami pembabatan masif yang menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi warga setempat. Kerusakan lingkungan ini terjadi di lereng gunung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Meskipun kategori yang diminta adalah "Jawa Tengah & Yogyakarta", informasi yang ditemukan secara real-time menunjukkan lokasi kejadian berada di Jawa Barat.
Aktivitas pembalakan liar, yang diduga berlangsung lebih dari dua tahun, telah menyebabkan kerusakan parah. Diperkirakan lebih dari 15.000 pohon telah ditebang, membuat hampir separuh dari 70 hektare hutan di Blok Cangkuang kini gundul. Pohon-pohon bernilai tinggi seperti Mangong, Damar, Jengjeng, Pasah, Saninten, dan Puspa menjadi sasaran penebangan, bahkan pohon pinus dan damar yang merupakan bagian dari program penghijauan turut dibabat. Tokoh masyarakat setempat, Rohadi (75), menyebutkan bahwa kerusakan ini diduga melibatkan seorang tokoh berpengaruh berinisial HB, yang dikenal sebagai "jawara" di wilayah tersebut.
Ironisnya, pembabatan hutan ini juga dikaitkan dengan pembukaan lokasi pariwisata. Sebuah video yang mendukung aktivitas wisata di Blok Cangkuang TNGHS, diunggah oleh seorang konten kreator dari Kabupaten Sukabumi, menuai kontroversi. Warga Desa Cidahu menolak klaim dukungan tersebut karena lokasi yang dipromosikan berdekatan dengan area yang mengalami kerusakan lahan dan penebangan pohon ilegal skala besar. Tim Advokasi Warga Cidahu, Rozak Daud, menyatakan bahwa pembukaan tempat wisata di kawasan hutan dan perkebunan ini bertentangan dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Barat yang menginstruksikan penghentian izin usaha di kawasan tersebut hingga Maret dan Desember 2025. Rozak juga menegaskan bahwa tanah enklave dari bekas Hak Guna Usaha (HGU) seharusnya dialokasikan sebagai tanah cadangan negara atau Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk dikelola kembali oleh perusahaan baru sebagai tempat wisata.
Dampak dari penggundulan hutan ini sangat dirasakan oleh warga di tiga desa yang bergantung pada aliran air dari Blok Cangkuang, yaitu Desa Cidahu, Jayabakti, dan Pondokaso. Debit air bersih menurun drastis, dan kualitas air memburuk, bahkan cepat keruh meskipun hanya terjadi hujan ringan. Kolam-kolam penampungan air yang biasanya penuh kini hanya terisi setengahnya.
Kekhawatiran terbesar warga adalah ancaman bencana ekologis. Pada Oktober 2022, banjir bandang pertama tercatat melanda kawasan Pondokaso akibat meluapnya Sungai Cibojong, yang membawa lumpur dan ranting-ranting dari hulu, merusak permukiman. Sungai Cibojong merupakan pertemuan dua aliran air dari Sungai Cibogo Cidahu dan Cirasamala Cicurug, keduanya berhulu dari Blok Cangkuang. Banjir bandang serupa juga dilaporkan terjadi pada awal Agustus 2025. Hilangnya akar-akar pohon yang berfungsi menahan air telah memperbesar risiko banjir dan tanah longsor di lereng Gunung Salak. Ekosistem hutan juga terganggu, mengancam habitat satwa liar seperti elang jawa, kancil, hingga macan tutul jawa.
Warga Cidahu menyatakan hidup dalam bayang-bayang bencana dan menyerukan kepada pihak berwenang untuk menyelidiki perizinan serta pengelolaan tanah di kawasan tersebut, serta memastikan kesesuaiannya dengan ketentuan pemanfaatan kawasan hutan dan perkebunan. Mereka berencana menggelar aksi bersama Fraksi Rakyat ke kantor TNGHS dan pemerintah daerah untuk mendesak penghentian aktivitas ilegal ini.