:strip_icc()/kly-media-production/medias/5448993/original/011330600_1766044717-IMG-20251217-WA0381.jpg)
Suasana Pendopo Kabupaten Kudus pada Rabu (17/12/2025) berubah menjadi layaknya dapur raksasa yang mengolah beragam kuliner. Ratusan kader Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dari sembilan kecamatan di Kudus, yakni Jati, Undaan, Kota Kudus, Jekulo, Bae, Kaliwungu, Dawe, Mejobo, dan Gebog, berkumpul untuk mengikuti pelatihan memasak kombinasi demo zero-waste dan pelatihan pembuatan konten media sosial. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan "Sosialisasi Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga" yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Pemerintah Kabupaten Kudus, dan TP PKK Kabupaten Kudus.
Sebanyak 150 peserta antusias mengikuti pelatihan ini, yang menghadirkan Isman Ridhwansah, seorang influencer Kudus ASIK dan mantan peserta MasterChef Indonesia musim ketujuh. Isman dengan sabar mengajarkan keterampilan mengolah bahan pangan secara unik dan kreatif dengan meminimalkan limbah. Para ibu PKK diajari cara memanfaatkan sisa masakan seperti kulit bawang merah dan bawang putih, kepala udang, hingga kulit jeruk untuk diolah menjadi bumbu dasar dan minuman segar bercita rasa rempah yang juga berpotensi menjadi ide usaha rumahan. Mereka juga mempraktikkan pembuatan mie terbang lengkap dengan sayuran pendamping. Dalam sesi praktik, setiap kelompok memasak juga dilengkapi dengan tiga jenis tempat sampah (organik, anorganik, dan residu) untuk membiasakan pemilahan sampah.
Selain demo memasak, Isman juga berbagi keterampilan membuat konten edukatif sebagai bagian dari kampanye pengelolaan sampah organik di ruang digital. Pesan pengelolaan sampah perlu dikemas secara relevan, kreatif, dan inspiratif untuk mendorong masyarakat bergerak dari dapur dan rumah tangga mereka. Director Communication Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga berkaitan erat dengan perubahan perilaku. Momen Hari Ibu menjadi kesempatan bagi BLDF untuk memperkuat kapasitas ibu dan keluarganya dalam mengelola sampah secara terencana dan berkelanjutan.
Ketua TP PKK Kabupaten Kudus periode 2025–2030, Endhah Endhayani Sam'ani Intakoris, menekankan peran strategis perempuan dalam pengelolaan lingkungan di lingkup keluarga. Dengan puluhan ribu kader PKK yang tersebar di seluruh desa dan kelurahan, ia optimistis perubahan perilaku masyarakat dapat didorong secara masif. Ia menyatakan, jika setiap keluarga yang didampingi kader PKK mulai memilah dan mengolah sampah organik dari dapur, dampaknya akan sangat signifikan dalam menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Program ini sejalan dengan Program Pokok PKK ke-9 tentang Kelestarian Lingkungan Hidup.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus, Sulistiyowati, menambahkan bahwa persoalan sampah adalah isu lintas sektor yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga menjadi kunci efektivitas dan keberlanjutan program pengelolaan sampah.
BLDF bersama Pemerintah Kabupaten Kudus telah konsisten memperkuat pengelolaan sampah organik sejak tahun 2018 melalui penguatan sistem dari hulu hingga hilir, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat. Melalui program Kudus ASIK, BLDF juga mendorong pemilahan sampah dari rumah dan sistem penjemputan sampah organik secara berkala, membangun rantai pengelolaan sampah yang berkesinambungan hingga fasilitas pengolahan. Kabupaten Kudus menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, dengan timbulan sampah mencapai lebih dari 150 ribu ton per tahun atau sekitar 437 ton per hari pada tahun 2024, menyumbang sekitar 4,5 persen dari total timbulan sampah nasional. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi gerakan kolektif yang dimulai dari rumah dan berdampak nyata bagi lingkungan Kabupaten Kudus.