Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Cidadap Sukabumi Hantam Ratusan Pengungsi, Kini Dihantui Penyakit dan Krisis Kesehatan Mental

2025-12-22 | 12:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T05:04:23Z
Ruang Iklan

Banjir Cidadap Sukabumi Hantam Ratusan Pengungsi, Kini Dihantui Penyakit dan Krisis Kesehatan Mental

Ratusan warga Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini menghadapi ancaman ganda berupa penyakit dan gangguan kecemasan akut setelah lebih dari seminggu bertahan di pengungsian pasca-banjir bandang yang melanda wilayah mereka sejak 15 Desember 2025. Setidaknya 85 pengungsi dilaporkan mulai terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan pencernaan, diperparah oleh kondisi sanitasi yang buruk serta tekanan psikologis akibat kehilangan tempat tinggal.

Banjir bandang, yang dipicu oleh luapan Sungai Cidadap akibat curah hujan ekstrem, menghanyutkan puluhan rumah warga di lima kampung, termasuk Babakan Cisarua, Sawah Tengah, Cisarua, Cipanas, dan Cikadaka. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat total 216 jiwa dari 72 Kepala Keluarga (KK) awalnya mengungsi, angka yang kemudian meningkat menjadi sekitar 280 jiwa dari 93 KK di posko pengungsian utama di SDN Kawungluwuk hingga 21 Desember 2025. Beberapa wilayah, seperti Kampung Cisarua, bahkan sempat terisolasi selama tiga hari karena putusnya akses jembatan, memerlukan evakuasi dramatis oleh tim SAR gabungan.

Dokter Egi Iswanto dari Puskesmas Simpenan, yang menerjunkan layanan klinik keliling, mengungkapkan bahwa ISPA menjadi keluhan terbanyak di kalangan pengungsi. Selain itu, gejala maag atau gastritis juga mulai banyak ditemukan. "ISPA atau infeksi saluran nafas kemungkinan sebelumnya sudah ada, tapi kebanyakan juga karena cemas ketakutan, jadi jantung berdebar. Itu sih wajar," jelas Egi, Senin (22/12/2025), seraya menyarankan pengungsi untuk menjaga ketenangan pikiran agar tidak memicu penyakit komplikasi lain seperti masalah lambung yang memburuk. Kondisi ini mencerminkan pola serupa dari bencana banjir sebelumnya di Sukabumi, di mana penyakit seperti diare dan gastritis menjadi endemik pasca-bencana, dengan kewaspadaan terhadap leptospirosis mengingat tingginya kelembaban lingkungan.

Kondisi hidup di pengungsian, sebagaimana disampaikan oleh Kasi Pelayanan Desa Cidadap Ruyatman, jauh dari layak. Keterbatasan alas tidur, selimut, dan kebutuhan bayi menjadi kendala utama, terutama di tengah cuaca musim hujan yang memperparah kedinginan. "Sanitasi yang buruk menjadi kendala yang dialami ratusan pengungsi," kata Ketua Koordinator Posko Pengungsian, Sumardiana, Minggu (21/12/2025), menggarisbawahi tantangan dalam menjaga kesehatan pengungsi. Meskipun bantuan logistik dan pangan mulai berdatangan, pasokan sayuran serta alas tidur dan selimut yang memadai masih sangat dibutuhkan.

Bencana banjir di Sukabumi, termasuk Cidadap, bukan fenomena tunggal. Studi tahun 2025 oleh Jurnal Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai mencatat banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan pergerakan tanah tersebar di 22 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, dengan 46 KK atau 93 jiwa mengungsi dari total 103 KK yang terdampak. Analisis dampak bencana juga mengindikasikan bahwa aktivitas pertambangan diduga menjadi salah satu penyebab luapan sungai, memicu investigasi lebih lanjut oleh Polres Sukabumi terhadap tiga perusahaan tambang. Ini menunjukkan bahwa krisis di Cidadap adalah bagian dari masalah yang lebih luas terkait dengan manajemen lingkungan dan mitigasi bencana di wilayah tersebut.

Meskipun Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah berjanji akan menanggung biaya kontrakan bagi korban banjir Cidadap selama enam bulan hingga satu tahun sembari menunggu relokasi, solusi jangka panjang untuk pemulihan fisik dan psikologis para penyintas masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kebutuhan mendesak saat ini tidak hanya terbatas pada kebutuhan dasar, tetapi juga perhatian serius terhadap dampak kesehatan jangka panjang, baik fisik maupun mental, yang dapat terus menghantui komunitas ini jauh setelah air surut. Tanpa intervensi komprehensif, siklus kerentanan terhadap bencana dan dampaknya yang meluas akan terus berulang.