:strip_icc()/kly-media-production/medias/5451314/original/077847000_1766277325-Gunung_Semeru_erupsi.jpg)
Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan dengan setidaknya enam kali erupsi pada Minggu, 21 Desember 2025, pagi hari. Kolom abu vulkanik tertinggi terpantau mencapai 1,2 kilometer di atas puncak gunung, atau setara 4.876 meter di atas permukaan laut (mdpl), memicu peringatan dari otoritas geologi. Erupsi paling menonjol terjadi pada pukul 05.46 WIB, dengan kolom abu berwarna putih hingga kelabu berintensitas sedang yang condong ke arah timur laut. Aktivitas vulkanik ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi sekitar dua menit 12 detik, menurut laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto.
Sejak dini hari Minggu, mulai pukul 00.26 WIB hingga 06.00 WIB, tercatat enam erupsi dengan tinggi letusan bervariasi antara 500 hingga 1.200 meter di atas puncak. Meskipun rentetan erupsi ini terjadi, status Gunung Semeru tetap berada pada Level III (Siaga). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan rekomendasi ketat, melarang masyarakat melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak, serta menghindari area 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan yang berpotensi dilanda awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. Selain itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah puncak karena ancaman lontaran batu pijar.
Kenaikan aktivitas Semeru ini bukan tanpa preseden. Gunung api ini memiliki sejarah erupsi yang panjang, terekam sejak 1818, dengan letusan signifikan seperti aliran lava pada 1941-1942 yang menimbun pos pengairan Bantengan, dan awan panas guguran pada 1977 yang merusak 6,5 juta meter kubik material vulkanik di Besuk Kobokan. Pada November 2025, Semeru juga mengalami erupsi besar pada tanggal 19, yang menyebabkan statusnya dinaikkan ke Level IV (Awas) setelah awan panas meluncur sejauh 13,8 kilometer ke arah Besuk Kobokan. Status ini kemudian diturunkan kembali menjadi Level III (Siaga) pada 29 November 2025, setelah aktivitas vulkanik menunjukkan penurunan dan tidak adanya penguatan suplai magma baru dari kedalaman.
Dampak erupsi Semeru secara rutin telah meluas melampaui ancaman langsung dari awan panas dan lahar. Komunitas di sekitar lereng Semeru, terutama di Kabupaten Lumajang, sangat bergantung pada sektor pertanian, peternakan, dan pertambangan pasir. Erupsi dapat menghancurkan lahan pertanian, mengganggu aktivitas penambangan, serta menyebabkan hilangnya pekerjaan dan sumber penghasilan. Material vulkanik yang melimpah juga merusak infrastruktur vital seperti jembatan dan jalan, menghambat mobilitas dan akses masyarakat. Pada erupsi sebelumnya di Desember 2021, ribuan orang mengungsi dan ratusan rumah serta hewan ternak rusak atau mati, menunjukkan kerentanan sosial-ekonomi yang signifikan di wilayah tersebut.
Respons mitigasi pemerintah daerah, seperti yang diklaim Bupati Lumajang Ir. Indah Amperawati, M.Si, telah berhasil menekan risiko korban jiwa pada erupsi 19 November 2025 melalui respons cepat masyarakat untuk mengungsi. Namun, fokus penanganan kini bergeser pada pemulihan infrastruktur dan dukungan operasional bagi relawan. Ke depan, tantangan tetap ada dalam memastikan konsistensi penerapan mitigasi bencana, termasuk pemutakhiran peta kawasan rawan bencana dan penguatan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang dinamis. Kawasan rawan bencana membutuhkan penataan ruang yang mempertimbangkan risiko geologis, serta sistem peringatan dini yang efektif agar masyarakat dapat mengambil tindakan penyelamatan yang tepat waktu.