Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Update Kebijakan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Jelang Nataru

2025-11-25 | 15:12 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-25T08:12:55Z
Ruang Iklan

Update Kebijakan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Jelang Nataru

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) telah menyiapkan skema baru penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk guna mengantisipasi lonjakan penumpang dan kendaraan selama periode libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru). Skema ini difokuskan pada optimalisasi layanan, peningkatan fasilitas, serta penerapan sistem manajemen lalu lintas yang lebih efektif.

Selama periode Nataru 2024/2025, puncak arus mudik diprediksi terjadi pada tanggal 20-21 dan 24 Desember 2024, sementara arus balik diperkirakan padat pada 29-30 Desember 2024 dan 1 Januari 2025. ASDP memproyeksikan peningkatan jumlah penumpang hingga 20 persen atau sekitar 1,2 juta orang, peningkatan jumlah perjalanan (trip) hingga 13 persen menjadi 8.816 trip, dan lonjakan jumlah kendaraan hingga 20 persen atau mencapai 320.787 unit di lintas Ketapang-Gilimanuk.

Untuk memastikan kelancaran operasional, ASDP mengoptimalkan sistem pembelian tiket online Ferizy. Pengguna jasa diwajibkan membeli tiket secara daring jauh hari sebelumnya, maksimal H-1 keberangkatan, karena tidak ada lagi penjualan tiket langsung di pelabuhan. Sistem Ferizy juga telah diperluas cakupannya dan kapasitas servernya ditingkatkan untuk pengalaman pengguna yang lebih baik. Penertiban agen tiket liar juga dilakukan melalui fitur geofencing.

Sebanyak 57 kapal dan 16 dermaga disiagakan untuk beroperasi di lintas Ketapang-Gilimanuk, termasuk KMP Jatra II yang mampu mengangkut hingga 100 kendaraan dalam sekali perjalanan. ASDP juga telah mengajukan tiga kapal tambahan kepada Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) untuk mendukung operasional. Pengaturan jadwal kapal sendiri merupakan kewenangan BPTD sebagai regulator.

Peningkatan fasilitas pelabuhan juga menjadi prioritas. Pelabuhan Ketapang kini memiliki kapasitas parkir hingga 1.670 kendaraan kecil, didukung 26 loket, 110 CCTV, dan posko kesehatan. Sementara itu, Pelabuhan Gilimanuk memiliki kapasitas parkir 1.335 kendaraan kecil, dilengkapi 19 loket, 87 CCTV, serta penambahan dermaga LCM baru yang dapat menampung ribuan kendaraan kecil.

Untuk mengurai kepadatan, diterapkan sistem antrean berlapis dan zona penyangga (buffer zone) sebelum kendaraan memasuki area pelabuhan. Di Ketapang, zona penyangga berlokasi di Grand Watudodol, Terminal Sritanjung, dan Bulusan. Sedangkan di Gilimanuk, zona penyangga mencakup UPPKB Cekik dan Terminal Kargo. Langkah ini bertujuan untuk meminimalkan antrean panjang di akses utama pelabuhan.

Manajemen lalu lintas juga mencakup tiga skenario operasional yang disiapkan oleh ASDP Ketapang dan BPTD Gilimanuk: pola normal, padat, dan sangat padat. Pada pola normal, 28-30 kapal beroperasi dengan 224-240 trip per hari. Jika kondisi padat, jumlah kapal ditingkatkan menjadi 30-32 kapal dengan 240 trip, dan pada kondisi sangat padat, sebanyak 32-35 kapal dioperasikan dengan kapasitas hingga 14.864 kendaraan.

Selain itu, untuk mengurangi kepadatan kendaraan truk di Pelabuhan Ketapang, angkutan barang tujuan Lembar (Lombok) akan dialihkan melalui Pelabuhan Jangkar di Situbondo. Selama periode 20 Desember 2024 hingga 5 Januari 2025, sepeda motor, mobil penumpang, dan bus akan menjadi prioritas penyeberangan, sementara mobil barang tidak menjadi prioritas.

ASDP juga berkoordinasi erat dengan Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, BPTD, dan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan kelancaran perjalanan selama Nataru. Menyongsong Nataru 2025/2026, pemerintah bahkan telah meluncurkan program stimulus ekonomi, di mana ASDP akan memberikan diskon tarif hingga 19 persen untuk 227 ribu penumpang dan 491 ribu kendaraan selama periode 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026. Pengguna jasa diimbau untuk merencanakan perjalanan dengan baik dan mempersiapkan diri menghadapi potensi cuaca ekstrem.