Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Semeru Menggeliat 8 Kali Selasa Pagi, Lontarkan Abu Vulkanik 1 Kilometer

2025-11-26 | 05:02 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-25T22:02:27Z
Ruang Iklan

Semeru Menggeliat 8 Kali Selasa Pagi, Lontarkan Abu Vulkanik 1 Kilometer

Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Selasa pagi, 25 November 2025. Tercatat, gunung berapi aktif ini mengalami delapan kali erupsi beruntun dalam rentang waktu 00.20 hingga 05.33 WIB. Erupsi terakhir pada pukul 05.33 WIB meluncurkan kolom abu setinggi kurang lebih 1.000 meter atau 1 kilometer di atas puncak Mahameru.

Kolom abu yang teramati berwarna putih hingga kelabu pekat, menunjukkan adanya campuran asap vulkanik dan material hasil letusan. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menjelaskan bahwa erupsi pertama terjadi pada pukul 00.20 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai 700 meter di atas puncak. Kolom abu pada erupsi awal ini teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah utara, sehingga wilayah di sisi utara gunung merasakan dampak sebaran abu. Erupsi berikutnya terjadi berturut-turut pada pukul 00.41 WIB dengan letusan setinggi 600 meter, pukul 00.53 WIB dengan tinggi letusan 800 meter, pukul 01.18 WIB dengan tinggi letusan 400 meter, pukul 01.34 WIB dengan tinggi letusan 800 meter, pukul 01.37 WIB dengan tinggi letusan 500 meter, dan pukul 04.45 WIB dengan tinggi letusan 800 meter di atas puncak.

Mengingat peningkatan aktivitas ini, status Gunung Semeru masih berada pada Level IV atau "Awas". Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos Pengamatan Gunungapi Semeru di Gunung Sawur, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Masyarakat juga dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar. Selain itu, area dalam radius 8 kilometer dari kawah harus dikosongkan mengingat potensi lontaran batu pijar.

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Semeru telah terdeteksi sejak dini melalui sistem pemantauan visual dan instrumental yang berjalan kontinu. Aktivitas vulkanik Semeru telah meningkat signifikan sejak erupsi besar pada 19 November 2025, yang menaikkan status gunung tersebut ke Level IV (Awas) pada pukul 17.00 WIB di hari yang sama. Letusan pada 19 November juga menyebabkan sebagian wilayah sempat gelap akibat hujan abu dan partikel vulkanik yang terbawa angin, serta memicu evakuasi sekitar 178 pendaki di area Ranu Kumbolo dan lebih dari 300 warga mengungsi ke titik aman.

Dampak erupsi Semeru juga telah menimbulkan kerusakan yang terdata. Laporan resmi menunjukkan sekitar 204,63 hektare lahan pertanian rusak, terutama di sektor tanaman pangan dan hortikultura. Selain itu, puluhan rumah warga juga mengalami kerusakan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan tiga desa paling terdampak material vulkanik, yakni Desa Supiturang dan Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro. Hingga kini, tiga orang dilaporkan mengalami luka berat akibat erupsi tersebut. Ratusan hewan ternak juga dilaporkan mati akibat erupsi dahsyat yang menyebabkan awan panas guguran menimbun permukiman warga.