Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Semeru Meletus Hebat Usai Hujan: Bak Botol Soda Terguncang dan Terbuka

2025-11-25 | 21:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-25T14:58:32Z
Ruang Iklan

Semeru Meletus Hebat Usai Hujan: Bak Botol Soda Terguncang dan Terbuka

Musim hujan yang tengah melanda kawasan turut memperkuat aktivitas erupsi Gunung Semeru, memicu fenomena yang diibaratkan pakar vulkanologi seperti botol minuman bersoda yang diguncang dan dibuka tiba-tiba. Kondisi ini meningkatkan tekanan erupsi gunung api tersebut melalui mekanisme penggerusan tutup kawah.

Dr. Eng. Ir. Mirzam Abdurrachman, seorang pakar vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa hujan memiliki peran ganda yang fatal dalam aktivitas vulkanik Semeru. Selain dapat memicu letusan freatik akibat air yang menyentuh zona panas di puncak gunung dan berubah menjadi uap, air hujan juga mencuci lapisan abu vulkanik di puncak. Lapisan abu ini sejatinya berfungsi sebagai "katup" penahan tekanan magma dari bawah. Ketika lapisan abu penutup ini terkikis oleh hujan, penahan tekanan melemah, menyebabkan isi perut gunung menyembur keluar dengan kuat, mirip botol soda yang tutupnya dibuka setelah diguncang.

Fenomena hilangnya beban penutup kawah akibat gerusan air hujan ini, menurut Mirzam, jauh lebih sulit diprediksi dibandingkan letusan reguler yang mengikuti siklus pengisian dapur magma. Peningkatan intensitas erupsi Semeru ini kembali menjadi perhatian seiring musim hujan yang sedang berlangsung.

Erupsi Gunung Semeru pada Senin pagi, 24 November 2025, misalnya, menghembuskan asap putih hingga setinggi 500 hingga 1.000 meter. Beberapa hari sebelumnya, pada Rabu, 19 November 2025, Semeru juga mengalami erupsi dengan awan panas guguran yang merangsek hingga sejauh 13 kilometer dari kawah. Peristiwa ini disertai dengan ratusan gempa dan abu vulkanik yang membubung tinggi, menyebabkan status aktivitas gunung api tersebut naik dari Waspada (Level II) menjadi Awas (Level IV).

Selain bahaya primer seperti letusan dan awan panas, musim hujan juga membawa ancaman bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin. Aliran lahar ini sangat berbahaya terutama di sepanjang badan sungai, khususnya pada bagian yang berkelok, karena lahar yang kental sulit bermanuver saat menghadapi tikungan secara tiba-tiba, berpotensi meluap ke permukiman warga. Banjir lahar hujan telah terpantau mengalir di Kali Lanang dan Besuk Kobokan, melintasi Jembatan Gladak Perak. Masyarakat di sekitar lereng Semeru diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan memantau informasi terkini dari sumber resmi seperti PVMBG atau aplikasi Magma Indonesia.