:strip_icc()/kly-media-production/medias/5421886/original/089068300_1763962678-kondisi_gunung_semeru.jpeg)
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, masih menunjukkan peningkatan signifikan, sehingga statusnya tetap berada pada Level IV atau Awas. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan status ini berlaku hingga Senin, 24 November 2025 pagi, menandakan aktivitas vulkanik yang tinggi dan dinamis, serta mengharuskan kepatuhan penuh terhadap rekomendasi keselamatan.
Peningkatan status ke Level IV (Awas) ini telah ditetapkan sejak Rabu, 19 November 2025, pukul 17.00 WIB, setelah sebelumnya pada hari yang sama naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada pukul 16.00 WIB. Erupsi pada tanggal 19 November 2025 disertai awan panas guguran yang tidak dapat dipastikan jarak luncurnya karena tertutup kabut tebal, namun terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 37 mm.
Dalam laporan periode pengamatan Senin, 24 November 2025, pukul 00.00–06.00 WIB, PVMBG mencatat kondisi cuaca di kawasan Semeru berawan hingga mendung dengan suhu udara 21–22°C, dan angin bertiup lemah ke arah timur laut. Pengamatan visual menunjukkan asap kawah bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas sedang, membumbung sekitar 500–1.000 meter dari puncak kawah. Selama periode enam jam pengamatan tersebut, tercatat 44 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10–22 mm, satu kali gempa hembusan, dan tiga kali gempa tektonik jauh. Letusan juga kembali terekam seismograf pada pukul 03.04 WIB dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 142 detik, meskipun tidak teramati secara visual.
Menyikapi kondisi tersebut, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting. Masyarakat diimbau keras untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Sungai Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, warga juga dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 20 km dari puncak. Selain itu, masyarakat tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Priatin Hadi Wijaya, menyatakan bahwa aktivitas guguran lava masih berlangsung dengan jarak luncur mencapai 800 meter ke arah Besuk Kobokan, dan getaran lahar terekam dua kali berturut-turut dengan durasi panjang, menunjukkan adanya aliran lahar di Besuk Kobokan dan menimbulkan letusan sekunder. Oleh karena itu, warga juga diimbau untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Sejalan dengan rekomendasi tersebut, seluruh aktivitas penambangan pasir di aliran Sungai Besuk Kobokan serta wilayah berhulu di Semeru dihentikan sementara demi keselamatan warga dan mencegah risiko bencana susulan. Namun, Bupati Lumajang Indah Amperawati menyayangkan adanya penambang yang masih nekat mengangkut pasir di area luberan lava meski sudah dilarang.
Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Alam yang berlaku hingga 26 November 2025. Bupati Lumajang juga mengimbau warga yang berada di zona merah, seperti Desa Sumberwuluh, Jugosari, Kecamatan Candipuro, serta Kecamatan Pronojiwo, untuk segera mengungsi ke lokasi evakuasi yang telah disiapkan.
Selain larangan aktivitas di zona bahaya, masyarakat sekitar Gunung Semeru juga diimbau untuk menggunakan masker sebagai langkah pencegahan terhadap paparan abu vulkanik yang berpotensi menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak, lansia, dan warga dengan penyakit pernapasan kronis. Pihak kepolisian dari Polda Jatim dan Polres Lumajang juga terus memantau situasi, mengingatkan warga untuk waspada terhadap potensi lahar dingin, material vulkanik, serta kondisi tanah yang labil di sekitar bantaran sungai, khususnya di sekitar Jembatan Besuk Kobokan (Gladak Perak). Warga diminta segera melapor ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk, sesak napas, atau gejala ISPA lainnya.