Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pelabuhan Hati Transpuan: Kisah Pulang dari Rumah Singgah

2025-11-24 | 17:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-24T10:35:53Z
Ruang Iklan

Pelabuhan Hati Transpuan: Kisah Pulang dari Rumah Singgah

Sebuah tempat berteduh dan pulang, begitu rasanya rumah singgah khusus transpuan yang didirikan oleh Yulianus Rettoblaut, atau yang akrab disapa Mami Yuli. Berlokasi di Depok, Jawa Barat, hunian ini telah menjadi tumpuan bagi ratusan transpuan di wilayah Jabodetabek, termasuk Jakarta, yang kerap terpinggirkan dari keluarga dan masyarakat. Mami Yuli, seorang transpuan berusia 67 tahun yang juga berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Hukum, memulai inisiatif ini sejak tahun 2004, meskipun baru dipublikasikan secara luas pada tahun 2010.

Rumah singgah ini didirikan atas keprihatinan Mami Yuli terhadap sulitnya kehidupan transpuan, terutama mereka yang telah lanjut usia, dalam menemukan tempat yang aman dan penerimaan. Banyak dari mereka diusir dari rumah, menghadapi stigma sosial yang mendalam, dan kesulitan mengakses hak-hak dasar sebagai warga negara, seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, bahkan tempat tinggal. Sejak awal beroperasi, rumah singgah ini telah memberikan ruang aman bagi para transpuan selama 21 tahun, dan tercatat menampung atau membantu sekitar 831 transpuan di Jabodetabek yang hidup dalam kondisi tidak layak.

Fasilitas yang disediakan tidak sekadar tempat tinggal. Para penghuni mendapatkan dukungan untuk kebutuhan sehari-hari, pelatihan keterampilan jangka pendek seperti membuat kue dan masakan yang hasil penjualannya dapat membantu mereka mandiri, serta bimbingan rohani dan motivasi sesuai keyakinan masing-masing. Kesehatan penghuni juga menjadi perhatian serius, dengan adanya pendampingan untuk perawatan dan pengobatan penyakit. Bahkan, rumah singgah ini juga mengurus pemakaman bagi transpuan yang meninggal dunia dan jenazahnya tidak diakui oleh keluarga.

Mami Yuli menghadapi berbagai tantangan dalam mengelola rumah singgah ini, termasuk stigma negatif dan rumor miring dari masyarakat sekitar. Namun, ia terus berjuang untuk membuktikan bahwa tempat ini adalah wadah pemberdayaan, bukan seperti stereotip yang kerap dilekatkan pada komunitas transpuan. Baginya, rumah singgah ini adalah bentuk advokasi nyata atas hak-hak dasar komunitasnya yang seringkali diabaikan oleh lembaga negara.

Di sisi lain, upaya pemberdayaan transpuan juga terlihat di berbagai inisiatif lain di Jakarta. Misalnya, Sanggar Seroja di Kampung Duri, Jakarta Barat, yang anggotanya mendirikan usaha kuliner kecil untuk bertahan hidup di masa pandemi. Ada pula Salon Sang Ratu yang dikelola para transpuan di kawasan Unika Atma Jaya, Jakarta, sebagai upaya melawan diskriminasi dan meningkatkan kualitas hidup mereka melalui keterampilan. Selain itu, ada juga Rumah Singgah Kebaya yang didirikan Vinolia Wakidjo untuk menampung transpuan yang mengidap HIV/AIDS.

Kisah dari rumah singgah khusus transpuan ini menyoroti perjuangan gigih komunitas tersebut untuk mendapatkan hak-hak dasar dan pengakuan di tengah masyarakat, sekaligus menunjukkan adanya ruang-ruang aman dan produktif yang mereka ciptakan sendiri sebagai "tempat mereka pulang".