Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Nelayan Tua Ketapang Tergulung Ombak Maut, Salah Prediksi Cuaca Berujung Tragis

2025-11-25 | 08:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-25T01:30:14Z
Ruang Iklan

Nelayan Tua Ketapang Tergulung Ombak Maut, Salah Prediksi Cuaca Berujung Tragis

Perairan Muara Ketapang kembali menelan korban jiwa seorang nelayan tua bernama Asmi (65 tahun) setelah perahu kecilnya dihantam badai mendadak pada Kamis, 20 November 2025. Asmi, warga Desa Sukabangun, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, awalnya berangkat melaut sekitar pukul 05.00 WIB. Langit pagi itu tampak cerah dan bersahabat, memberikan firasat aman bagi Asmi dan tetangganya, Paili, yang sempat berbincang dengannya di dermaga kecil.

Namun, kondisi laut berubah drastis secara tak terduga. Sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, perahu kayu kecil Asmi diguncang oleh gelombang yang meninggi dan angin yang berubah liar. Para ahli cuaca mencatat adanya dinamika atmosfer brutal, termasuk penurunan tekanan udara dan angin tak stabil di Selat Karimata, yang memicu pembentukan badai lokal tipe microburst. Badai jenis ini mampu meluluhlantakkan kapal kecil hanya dalam hitungan tiga hingga lima menit. Sekitar pukul 12.30 WIB, perahu Asmi dilaporkan dihantam angin kencang dan ombak tinggi hingga terbalik dan tenggelam.

Laporan resmi mengenai hilangnya Asmi diterima oleh Kantor SAR Pontianak pada malam harinya. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Kantor SAR Pontianak, Pos SAR Ketapang, Pos AL Ketapang, Polairud Ketapang, BPBD Ketapang, aparat Desa Sukabangun, serta nelayan setempat segera meluncurkan operasi pencarian. Namun, kondisi cuaca ekstrem menjadi tantangan utama yang memperlambat upaya pencarian selama beberapa hari.

Setelah tiga hari pencarian, Asmi ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu, 22 November 2025. Koordinator Pos SAR Ketapang, Ayub, mengonfirmasi bahwa korban ditemukan dalam posisi telungkup, masih mengenakan kaus dan celana pendek, mengapung sekitar 1,72 mil laut atau sekitar 3 kilometer dari lokasi awal kejadian di perairan Muara Ketapang. Jenazah Asmi kemudian dievakuasi ke Pelabuhan Sukabangun dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, mengonfirmasi penutupan operasi pencarian setelah korban ditemukan. Junetra juga mengungkapkan bahwa dalam lima bulan terakhir, SAR Pontianak telah menangani 14 insiden kedaruratan laut yang sebagian besar dipicu oleh cuaca ekstrem. Data BMKG Kalbar menunjukkan peningkatan intensitas hujan ekstrem sebesar 29–33 persen dalam dua tahun terakhir, dengan gelombang yang dapat mencapai 2–2,5 meter di perairan Ketapang bagian selatan dan kecepatan angin melonjak dari 10 knot menjadi 30 knot dalam beberapa jam saja.

Menanggapi insiden berulang ini, Junetra mengimbau masyarakat pesisir, khususnya para nelayan, untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, memantau prakiraan cuaca dari BMKG, dan menunda aktivitas melaut jika kondisi cuaca tidak stabil demi keselamatan. Peristiwa tragis ini menjadi pengingat pahit akan bahaya laut yang tak terduga, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup pada perahu sederhana.