Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Krisis Badak Kalimantan: Jerat Maut dan Pemburu Gaharu Ancam Spesies Terakhir

2025-11-24 | 11:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-24T04:13:15Z
Ruang Iklan

Krisis Badak Kalimantan: Jerat Maut dan Pemburu Gaharu Ancam Spesies Terakhir

Populasi badak Kalimantan, subspesies badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) yang tersisa, menghadapi ancaman ganda yang serius dari jerat dan aktivitas pencari gaharu di habitat alaminya. Diperkirakan hanya dua individu badak Kalimantan yang tersisa di muka bumi ini, yakni Pahu yang berada di Suaka Badak Kelian, Kutai Barat, serta Pari yang masih hidup liar di hutan Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Keberadaan Pari, satu-satunya badak Kalimantan yang masih bertahan di alam liar, terus dipantau intensif di hutan Mahakam Ulu, namun kondisinya berada di ambang kepunahan.

Ancaman jerat menjadi perhatian utama karena perangkap yang dipasang untuk hewan lain seringkali tetap aktif dan dapat melukai satwa besar seperti badak. Luka pada kaki, terutama di lingkungan basah, dapat memicu infeksi mematikan, seperti yang menimpa badak Najaq pada tahun 2016 yang meninggal akibat infeksi parah yang diduga berasal dari jerat. Survei monitoring Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama lembaga konservasi Alert pada Mei 2025 menemukan jerat satwa di sekitar kubangan aktif Pari di Mahakam Ulu.

Selain itu, aktivitas pencari gaharu menimbulkan gangguan signifikan terhadap habitat badak. Para pencari gaharu sering memasuki kawasan melalui jalur perusahaan yang beroperasi di sekitar habitat badak, mendirikan pondok kerja, dan menimbulkan kebisingan dari alat berat. Kehadiran manusia yang intensif ini, ditambah dengan jejak perburuan satwa kecil untuk konsumsi, menyebabkan Pari mengubah pola geraknya dan menghindari area yang menjadi pusat aktivitas pencari gaharu. Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, mengonfirmasi ancaman tersebut dan menyatakan bahwa Pari mulai jarang ditemukan di wilayah perbatasan tempat pencari gaharu beraktivitas. Pergeseran kecil dalam perilaku badak dengan populasi kritis dapat berdampak fatal.

Dalam menghadapi situasi genting ini, upaya konservasi terus digencarkan. Pemerintah menargetkan pemindahan Badak Pari ke Suaka Badak Kelian di Kutai Barat pada awal 2026. Suaka Badak Kelian, yang kini menjadi rumah bagi badak betina Pahu, dirancang sebagai pusat suaka badak di Kalimantan. Proses penyelamatan dan translokasi ini merupakan bagian dari Rencana Aksi Darurat (RAD) Badak Sumatera. Selain itu, teknologi reproduksi berbantu (Assisted Reproductive Technology/ART) sedang diupayakan, termasuk pengambilan sel telur dari Pahu, meskipun percobaan inseminasi buatan belum berhasil. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa pengembangbiakan buatan harus dilakukan untuk melestarikan badak Sumatera di Kalimantan yang tersisa. BKSDA Kalimantan Timur juga berkoordinasi dengan pihak perusahaan untuk memperketat pengawasan jalur akses guna mencegah aktivitas ilegal yang mengancam badak. Pelestarian badak ini adalah pekerjaan besar yang hanya bisa berhasil melalui kerja kolektif.