:strip_icc()/kly-media-production/medias/5358185/original/003389000_1758600333-1.jpg)
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai konflik Gaza di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menjadi viral di komunitas internasional. Respons positif yang meluas ini bahkan memunculkan istilah baru seperti "The Prabowo's Solution" atau "The Prabowo's Ways", bahkan ada yang menyebut beliau sebagai "the second Sukarno".
Nasaruddin Umar, yang menjabat sebagai Menteri Agama sejak 21 Oktober 2024, menuturkan bahwa gagasan Prabowo dalam mendorong solusi dua negara mendapat apresiasi dunia. Menurutnya, pidato Presiden Prabowo telah menyentak banyak negara dan meredam ketegangan global, sehingga perlu dijelaskan secara sistematis.
Pidato Presiden Prabowo Subianto disampaikan pada Konferensi Internasional Tingkat Tinggi untuk Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara, yang diselenggarakan di Gedung Majelis Umum PBB, New York, Amerika Serikat, pada Senin, 22 September 2025 waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo dengan tegas mengajak dunia untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan di Gaza dan mengutuk segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil tak bersalah.
Indonesia, melalui pidato Prabowo, kembali menegaskan komitmennya terhadap solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi. Lebih lanjut, Prabowo menyatakan kesediaan Indonesia untuk mengirim hingga 20.000 pasukan perdamaian ke Gaza apabila diperlukan. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia akan segera mengakui Negara Israel jika Israel mengakui kemerdekaan dan kenegaraan Palestina, serta mendukung semua jaminan keamanan bagi Israel.
Menyikapi meluasnya dukungan global terhadap gagasan Prabowo, Pemerintah Indonesia didorong untuk mengambil langkah strategis. Kementerian Agama bersama Kementerian Luar Negeri akan menyelenggarakan serangkaian seminar internasional guna menyiapkan skema konkret kontribusi Indonesia dalam proses perdamaian Gaza. Menag Nasaruddin Umar menekankan pentingnya kesiapan Indonesia untuk mengisi ruang besar yang muncul dari popularitas gagasan Presiden.