:strip_icc()/kly-media-production/medias/5423627/original/079331500_1764069634-1000095910.jpg)
Gelapnya kasus hilangnya Alvaro Kiano Nugroho (6) yang telah berlangsung selama delapan bulan akhirnya terkuak, berkat pengakuan tak sengaja dari seorang remaja yang tak lain adalah keponakan dari terduga pelaku. Alvaro Kiano, yang sempat dinyatakan hilang sejak Maret 2025, ditemukan dalam kondisi tinggal kerangka di Jembatan Cilalay, Tenjo, Jawa Barat, pada Minggu (23/11).
Misteri ini mulai terkuak dari obrolan dua siswa SMA berinisial G dan N. G, keponakan dari Alex Iskandar (49), ayah tiri korban, tanpa sengaja menceritakan kepada teman sekelasnya, N, bahwa pamannya telah membunuh seorang anak kecil dan bahkan menunjukkan foto korban. Informasi krusial ini kemudian sampai kepada Muhammad Reza (46), majikan dari asisten rumah tangga (ART) berinisial I, yang merupakan ibu dari N. Meskipun telah mengetahui informasi ini sejak September, Reza mengaku baru memiliki keberanian untuk melapor ke polisi pada satu minggu sebelum terungkapnya kasus ini karena rasa takut dan ketidakpahamannya terhadap detail kejadian.
Berbekal rekaman pembicaraan dengan ART dan anak-anaknya, Reza memberanikan diri membuat laporan ke Polsek Pesanggrahan. Dari laporan ini, polisi mulai melakukan penyelidikan intensif yang akhirnya mengarah pada Alex Iskandar sebagai pelaku utama.
Berdasarkan keterangan polisi dan nenek Alvaro, Sayem (53), Alex menculik Alvaro pada 6 Maret 2025 dari Masjid Jami Al-Muflihun, Pesanggrahan, dengan iming-iming akan membelikan mainan. Saat dibawa pergi, Alvaro terus menangis, yang diduga memicu emosi Alex. Pelaku kemudian membekap Alvaro hingga meninggal dunia pada 7 Maret 2025. Setelah tewas, jenazah Alvaro dibungkus plastik hitam dan sempat dititipkan di rumah adik Alex di Bogor sebelum akhirnya dibuang dan diikat pada batang pohon di sekitar aliran kali Jembatan Cilalay.
Motif di balik pembunuhan keji ini diduga adalah balas dendam Alex terhadap ibu Alvaro, yang terungkap dari rekam jejak digital pelaku. Dalam percakapan digital, Alex berulang kali menuliskan kalimat "gimana caranya gue balas dendam" dalam konteks kemarahan dan rasa sakit hati.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Alex Iskandar mengakhiri hidupnya dengan gantung diri menggunakan celana di ruang konseling Polres Metro Jakarta Selatan pada Senin (24/11) malam. Pihak kepolisian telah mengonfirmasi bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh pelaku, yang menguatkan dugaan bunuh diri. Kasus ini telah menarik perhatian publik, termasuk Ketua DPR RI Puan Maharani, yang menyebutnya sebagai "situasi darurat" dan mendesak semua pihak terkait untuk menindaklanjuti secara serius. Saat ini, polisi juga memberikan trauma healing kepada keluarga Alvaro untuk membantu menstabilkan kondisi emosional mereka.