:strip_icc()/kly-media-production/medias/5424742/original/054960900_1764153693-ad421132-1634-42b4-a0bf-09682d7fcf6a.jpeg)
Banjir bandang dan tanah longsor dengan intensitas tinggi telah melanda Sumatera Utara selama tiga hari berturut-turut sejak Senin, 24 November 2025, menyebabkan sedikitnya 24 orang meninggal dunia di 11 kabupaten/kota yang terdampak. Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi wilayah paling parah, mencatat 12 korban jiwa dan puluhan lainnya luka-luka.
Data rekapitulasi dari Polda Sumut menunjukkan total 86 kejadian bencana hidrometeorologi, meliputi 59 tanah longsor, 21 banjir, 4 pohon tumbang, dan 2 puting beliung. Di seluruh Sumatera Utara, tercatat 72 korban terdampak, dengan rincian 24 orang meninggal dunia, 37 luka ringan, 6 luka berat, dan 5 orang masih dalam pencarian.
Di Tapanuli Selatan, bencana ini meluas hingga mencakup sedikitnya 11 kecamatan, termasuk Sipirok, Marancar, Batangtoru, Angkola Barat, Muara Batangtoru, Angkola Sangkunur, Angkola Selatan, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Tanah Timbangan Angkola, dan Angkola Muaratais. Kecamatan Batangtoru menjadi salah satu area dengan dampak terparah, di mana setidaknya sembilan orang meninggal dunia, beberapa di antaranya tersapu arus banjir bandang yang membawa material kayu besar. Selain itu, satu korban jiwa ditemukan di Kecamatan Sipirok akibat hanyut terbawa arus, dan satu orang meninggal di Kecamatan Angkola Barat setelah tertimpa pohon tumbang.
Selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan 38 orang luka-luka di Tapanuli Selatan, dengan total 330 unit rumah rusak, terdiri dari 12 rusak berat, 6 rusak sedang, dan 312 rusak ringan, serta satu unit sekolah mengalami kerusakan. Sekitar 3.000 kepala keluarga atau 2.851 warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam air atau wilayahnya tidak lagi aman.
Akses jalan nasional di beberapa titik vital juga terputus akibat longsor dan banjir, termasuk jalan Tarutung-Sibolga dan jalan Padangsidimpuan-Sibolga di Kecamatan Angkola Barat. Truk logistik tertahan dan antrean kendaraan memanjang hingga beberapa kilometer. Jaringan listrik di wilayah terdampak dilaporkan padam.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, melalui Bupati Gus Irawan Pasaribu, telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari, terhitung mulai Selasa, 25 November 2025. Penanganan darurat telah dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD Tapsel, TNI, Polri, Satpol PP, Dishub, dan Basarnas. Upaya penanganan meliputi pembukaan akses jalan, evakuasi warga, pendirian lokasi pengungsian, dapur umum, pos kesehatan, dan penyaluran bantuan logistik.
Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, menyatakan bahwa bencana ini diakibatkan oleh curah hujan yang sangat tinggi dalam beberapa hari terakhir. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat kondisi cuaca di Sumatera Utara masih berpotensi ekstrem hingga beberapa hari ke depan, termasuk risiko banjir susulan dan longsor pada kawasan rawan serta sepanjang aliran sungai.