:strip_icc()/kly-media-production/medias/5424079/original/086332600_1764132583-hari_peringatan_korban_kecelakaan_lalin.jpeg)
Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnain mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Bandung telah mengimplementasikan tiga strategi utama untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak-anak. Langkah ini diambil menyikapi data terbaru yang menunjukkan peningkatan signifikan kasus kecelakaan, terutama pada kelompok usia produktif. Berdasarkan data World Safety Annual Report 2023, kelompok usia 15-24 tahun menjadi yang paling rentan menjadi korban kecelakaan lalu lintas, baik luka-luka maupun meninggal dunia. Pada tahun 2024 saja, Kota Bandung mencatat 668 kasus kecelakaan dengan 148 korban meninggal dunia, di mana pelajar mendominasi korban dengan 69 kematian dan 224 luka-luka pada rentang usia 15-24 tahun. Sepeda motor menjadi kendaraan yang paling sering terlibat dalam kecelakaan, menyumbang 72 persen dari total kejadian. Data ini disampaikan oleh Iskandar Zulkarnain pada Hari Peringatan Sedunia untuk Korban Kecelakaan Lalu Lintas, Selasa, 25 November 2025.
Jurus pertama adalah melalui program edukasi keselamatan lalu lintas sejak usia dini dan praremaja. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung secara konsisten menjalankan program Sadar Lalu Lintas Usia Dini (SALUD) yang menyasar anak-anak PAUD, TK, dan SD. Program ini bertujuan menanamkan pembiasaan tertib berlalu lintas sejak kecil. Selain itu, ada program Sadar Tertib Lalu Lintas Praremaja (SATRIA) yang secara khusus menyasar pelajar SMP. Program SATRIA saat ini telah diterapkan di 30 sekolah. Edukasi ini juga diperkuat dengan menggandeng unsur kepolisian dan psikolog, seperti yang terlihat dalam seminar SALUD sebelumnya yang melibatkan Iptu M. Andri dari Sat Lantas Polrestabes Bandung dan psikolog anak Karina Dewanti. Bunda PAUD Kota Bandung, Yunimar Mulyana, pada tahun 2022 juga menekankan pentingnya edukasi sejak dini untuk membangun pondasi kesadaran disiplin lalu lintas, dengan menargetkan sekitar 1.800 PAUD untuk program ini.
Jurus kedua berfokus pada peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur jalan. Pemerintah Kota Bandung, melalui Dinas Perhubungan dan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), terus melakukan perbaikan fasilitas jalan, peningkatan kualitas trotoar, penambahan dan perbaikan lampu penerangan jalan umum (PJU), rambu-rambu, marka, serta fasilitas pendukung lainnya. Iskandar Zulkarnain menegaskan bahwa infrastruktur jalan yang baik merupakan faktor penting untuk menekan risiko kecelakaan.
Jurus ketiga adalah penegakan aturan berkendara dan pengawasan yang sinergis. Upaya ini dilakukan bersama dengan kepolisian dan Dinas Perhubungan, termasuk penertiban kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM), terutama bagi pengendara usia muda yang kerap menjadi korban kecelakaan dan banyak di antaranya belum memiliki SIM. Sekda Iskandar Zulkarnain menegaskan bahwa keselamatan jalan adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan sinergi nyata dari berbagai pihak, termasuk kepolisian, sekolah, komunitas, media, lembaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat. Kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan budaya tertib di jalan raya dan mengurangi angka kecelakaan.