:strip_icc()/kly-media-production/medias/5423632/original/072668800_1764070146-IMG-20251125-WA0032.jpg)
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban bencana tanah longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, resmi dihentikan pada Selasa (25/11), setelah berlangsung selama sepuluh hari. Pada hari terakhir operasi, tim gabungan berhasil menemukan lima jenazah tambahan di sektor A2 (Worksite 2) atau sektor A, yang kini telah dibawa ke RSUD Banjarnegara untuk proses identifikasi.
Penemuan lima jenazah tersebut meningkatkan total korban meninggal dunia yang berhasil dievakuasi menjadi 17 orang. Namun, 11 korban lainnya masih belum berhasil ditemukan, menambah beban emosional bagi keluarga yang berangsur menerima keputusan akhir operasi tersebut. Kepala Kantor Basarnas Semarang, Budiono, menjelaskan bahwa kelima korban yang ditemukan pada hari kesepuluh pencarian tersebut diduga merupakan satu keluarga yang sempat berusaha menyelamatkan diri namun terjatuh dan tertimbun material longsor. Ditemukan dalam posisi berdekatan, bahkan ada jasad yang dalam posisi memeluk anaknya, penemuan ini menjadi penutup pencarian di sektor A2.
Keputusan penghentian operasi SAR ini diambil setelah melalui evaluasi komprehensif oleh seluruh unsur terkait, dengan mempertimbangkan tingginya risiko keselamatan di lapangan seperti kondisi tanah yang masih labil, cuaca yang tidak menentu, serta kedalaman dan luas timbunan material longsor yang mencapai lebih dari 20 meter di beberapa titik. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, kondisi tersebut menimbulkan risiko keselamatan yang tinggi bagi petugas maupun masyarakat, sehingga operasi SAR tidak dapat dilanjutkan tanpa mengorbankan keselamatan lebih banyak pihak.
Meskipun operasi SAR telah ditutup, prioritas kini bergeser penuh ke fase pemulihan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkomitmen untuk mendampingi warga Banjarnegara bangkit kembali melalui tahapan pemulihan yang sistematis. Fokus pemulihan meliputi pendampingan psikososial, pemenuhan hak-hak keluarga korban, hingga penyiapan relokasi bagi warga yang rumahnya berada di zona merah. Selain korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan empat warga luka-luka, serta 1.019 jiwa dari 343 KK mengungsi di lima lokasi pengungsian dan rumah warga. Kerugian material mencakup 206 rumah roboh, dua unit masjid, satu musala, jalur antar desa sepanjang 800 meter tertutup material, saluran irigasi 670 meter terdampak, persawahan warga, serta beberapa ternak dan warung. Sebagian besar keluarga dan kerabat korban turut hadir dalam prosesi penutupan operasi SAR, yang dilanjutkan dengan doa bersama dan tabur bunga di lokasi longsor, menunjukkan ketabahan luar biasa dalam menerima hasil akhir operasi.