Karanganyar, Jawa Tengah – Yasid Ahmad Firdaus, seorang pendaki berusia 26 tahun asal Karanganyar, Jawa Tengah, belum ditemukan hingga Rabu (21/1) setelah dilaporkan hilang sejak Minggu (18/1) di Bukit Mongkrang, lereng Gunung Lawu. Orang tua Yasid mengungkapkan bahwa putra mereka adalah pendaki berpengalaman yang telah mendaki Bukit Mongkrang lebih dari lima kali dan memiliki kondisi fisik optimal berkat rutinitas trail run. Pernyataan ini muncul di tengah operasi pencarian besar-besaran yang terhambat oleh cuaca ekstrem, menimbulkan pertanyaan serius mengenai faktor keselamatan di jalur pendakian yang kerap dianggap ramah bagi pemula.
Yasid, warga Perum Angsana, Gawanan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, dilaporkan terpisah dari tiga rekannya, Salman, Cahya, dan Riyan, saat dalam perjalanan turun dari puncak Bukit Mongkrang pada Minggu siang sekitar pukul 13.50 WIB. Menurut kronologi, rombongan memulai pendakian pukul 06.30 WIB dan tiba di puncak pukul 08.00 WIB, namun terpisah di atas Pos 3 saat kembali ke basecamp. Salman dan Cahya tiba lebih dulu, disusul Riyan, sementara Yasid tidak kunjung kembali.
Ayah Yasid, Sapto Mulyono, bersama sang istri Rustiningsih, setia menunggu di basecamp dan menyatakan keyakinan mereka terhadap kemampuan fisik dan pengalaman putranya. "Anak kami sudah lebih dari 5 kali ke Mongkrang dan fisiknya sedang optimal," kata Sapto, seraya menambahkan bahwa Yasid juga rutin berlatih renang dan lari serta sering melakukan aktivitas trail run di kawasan tersebut. Meskipun demikian, sinyal GPS dari ponsel maupun jam tangan pintar milik Yasid tidak dapat terlacak, menyulitkan upaya pencarian.
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan telah memasuki hari keempat, mengerahkan ratusan personel dari Basarnas, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Perhutani, pengelola Mongkrang, relawan gabungan, dan warga sekitar. Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, mengonfirmasi kendala utama dalam pencarian adalah cuaca buruk. "Hari ini hari keempat pencarian, belum ditemukan tanda-tanda survivor," ujar Hendro pada Rabu (21/1). Angin kencang, kabut tebal, dan hujan deras secara signifikan membatasi jarak pandang dan menghambat penggunaan drone dalam penyisiran.
Hendro juga menjelaskan bahwa Bukit Mongkrang, meskipun populer di kalangan pendaki pemula, memiliki titik-titik jurang yang berbahaya dan kondisi alam yang tidak dapat diprediksi. Penutupan sementara jalur pendakian Bukit Mongkrang diberlakukan sejak Senin (19/1) untuk mendukung kelancaran operasi SAR dan mempermudah akses tim penyelamat. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk menunda aktivitas pendakian di tengah prakiraan cuaca ekstrem dari BMKG yang memprediksi hujan terus-menerus hingga Februari.
Bupati Karanganyar, Rober Christanto, telah meninjau langsung posko pencarian dan menjanjikan pengerahan maksimal sumber daya untuk menemukan Yasid. Rober juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan jalur pendakian di wilayah tersebut. "Kejadian ini akan dijadikan evaluasi terhadap pengelolaan jalur pendakian Bukit Mongkrang," ujarnya, menambahkan harapan agar pendaki pemula didampingi oleh relawan atau petugas untuk menjamin keselamatan. Insiden ini menyoroti perlunya peningkatan standar keamanan dan pengawasan, bahkan di jalur yang secara umum dianggap mudah, mengingat bahwa pengalaman individu tidak selalu dapat mengalahkan tantangan alam yang ekstrem dan tidak terduga.