Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Wisata Alam Sukabumi Membludak Libur Isra Miraj, Abaikan Peringatan Cuaca Ekstrem

2026-01-17 | 21:32 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T14:32:02Z
Ruang Iklan

Wisata Alam Sukabumi Membludak Libur Isra Miraj, Abaikan Peringatan Cuaca Ekstrem

Ribuan wisatawan memadati berbagai objek wisata alam di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, selama libur panjang peringatan Isra Miraj pada 8-11 Februari 2024, meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat bagian selatan. Keramaian serupa juga terlihat pada libur panjang gabungan Isra Miraj dan Tahun Baru Imlek 2025 yang berlangsung pada 25-29 Januari 2025, menandai pemulihan signifikan sektor pariwisata daerah pascabencana hidrometeorologi akhir tahun 2024.

Pada momen libur Isra Miraj 2024, Satuan Polisi Air dan Udara (Satpol Airud) Polres Sukabumi mencatat total 12.365 pengunjung membanjiri kawasan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG) dari Kamis hingga Minggu. Destinasi favorit seperti pantai Ujung Genteng, Cimaja, dan Cibangban dilaporkan ramai oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Fenomena ini berulang pada libur panjang Isra Miraj dan Imlek 2025, dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi mencatat lonjakan kunjungan hingga 77.634 orang, menunjukkan kenaikan 60% dibandingkan periode sebelumnya. Okupansi penginapan juga melonjak 57,47%, menandakan pulihnya minat wisatawan untuk menginap di Sukabumi.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi saat itu, Sendi Apriandi, menyatakan optimismenya bahwa libur panjang tersebut menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa objek wisata di Sukabumi, khususnya wilayah selatan, aman untuk dikunjungi setelah serangkaian bencana. Ia menyoroti bagaimana sektor pariwisata Sukabumi sempat terpuruk akibat bencana hidrometeorologi pada akhir 2024, yang menyebabkan penurunan kunjungan wisatawan hingga 54% pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024.

Namun, bersamaan dengan lonjakan kunjungan, BMKG secara periodik mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem yang mencakup potensi hujan lebat, angin kencang, gelombang tinggi, dan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Pada akhir Februari 2024, BMKG memperingatkan potensi angin puting beliung dan cuaca ekstrem di 25 wilayah, termasuk sebagian Jawa Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi juga terus-menerus mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat Sukabumi dikenal sebagai "supermarket bencana" karena kerawanannya terhadap berbagai jenis bencana. Pada Desember 2024, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati bahkan menjelaskan bahwa bibit siklon tropis di Samudra Hindia dapat memicu hujan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang di wilayah Jawa Barat, termasuk Sukabumi.

Ketegangan antara daya tarik wisata alam dan risiko bencana ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah dan pengelola destinasi. Wisatawan dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Bandung, dan Cianjur seringkali memilih Sukabumi karena kedekatannya dan keindahan alamnya yang menawarkan pelarian dari hiruk pikuk perkotaan. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menekankan pentingnya pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, dengan prioritas utama pada keselamatan pengunjung di tengah anomali cuaca. Pemerintah Kabupaten Sukabumi, di bawah kepemimpinan Bupati Asep Japar, telah menginstruksikan seluruh perangkat daerah, termasuk Dinas Pariwisata, untuk memetakan potensi bahaya di objek wisata demi menjamin keselamatan pengunjung dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Upaya ini didukung dengan penguatan ekosistem pariwisata melalui kesiapan pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat, serta penambahan lapisan pengamanan di lokasi wisata. Meskipun demikian, kesadaran dan ketaatan wisatawan terhadap peringatan dan protokol keselamatan tetap menjadi kunci untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan di tengah popularitas wisata alam Sukabumi yang terus meningkat.

Di masa mendatang, harmonisasi antara pengembangan pariwisata yang bertujuan mendongkrak ekonomi lokal dengan mitigasi risiko bencana yang komprehensif akan menjadi agenda krusial bagi Kabupaten Sukabumi. Perluasan sistem peringatan dini yang lebih spesifik, peningkatan infrastruktur tahan bencana di kawasan wisata, dan edukasi wisatawan mengenai potensi bahaya adalah langkah-langkah yang tak terhindarkan. Tanpa strategi terpadu yang kuat, pertumbuhan sektor pariwisata dapat terancam oleh dampak bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi. Pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan perlu secara konsisten memperbarui kebijakan dan tindakan pencegahan untuk memastikan bahwa daya tarik alam Sukabumi tetap menjadi berkah, bukan sumber musibah.