Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Visi Prabowo: Perbanyak Sekolah Unggul Model Taruna Nusantara, Kunci Iptek Majukan Bangsa

2026-01-14 | 02:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T19:26:52Z
Ruang Iklan

Visi Prabowo: Perbanyak Sekolah Unggul Model Taruna Nusantara, Kunci Iptek Majukan Bangsa

Malang, Jawa Timur – Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (13/1) meresmikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Nusantara Kampus Malang, Jawa Timur, menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak terpisahkan dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Pernyataan ini sekaligus menjadi penekanan atas urgensi memperbanyak sekolah unggulan serupa di seluruh Indonesia sebagai pilar pembangunan sumber daya manusia (SDM) berkualitas tinggi.

Prabowo menyatakan bahwa pembangunan dan peradaban tinggi sebuah bangsa bertumpu pada kemampuan menguasai iptek, yang pada gilirannya akan menghasilkan kesejahteraan dan memutus rantai kemiskinan. Ia menyoroti model pendidikan di SMA Taruna Nusantara yang menggabungkan pendidikan akademik, pembinaan karakter, disiplin, kepemimpinan, serta wawasan kebangsaan dan bela negara, sebagai contoh wadah yang dibutuhkan untuk mencetak kader bangsa. Sebagai bagian dari rencana strategis, pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 20 sekolah unggulan baru yang akan dinamai SMA Garuda, serta berupaya agar hampir setiap provinsi memiliki satu SMA Taruna Nusantara atau SMA Garuda. Lebih lanjut, rencana ambisius mencakup pembentukan sekitar 500 sekolah unggulan terintegrasi dalam empat tahun ke depan, dengan target beroperasi mulai akhir 2026.

Visi ini muncul di tengah tantangan signifikan yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan iptek dan kualitas SDM. Data Bank Dunia pada tahun 2020 menunjukkan bahwa lulusan bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) di Indonesia hanya mencapai 18,47 persen, jauh tertinggal dibandingkan Malaysia yang mencapai 37,19 persen dan Singapura sebesar 34,30 persen. Laporan World Talent Ranking (WTR) 2025 menempatkan kualitas SDM Indonesia pada peringkat ke-53 dari 69 negara, atau terendah kedua di ASEAN, menandakan penurunan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Minimnya kontribusi iptek dalam pembangunan nasional juga diakibatkan oleh kelemahan sumber daya riset, kurangnya fasilitas memadai, dan budaya ilmiah yang masih lemah.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengalokasikan anggaran signifikan, termasuk Rp57 triliun pada tahun 2024 untuk sektor sains dan teknologi, serta Rp757,8 triliun untuk total anggaran pendidikan dalam RAPBN 2026. Angka ini mencakup Rp150,1 triliun untuk sekolah dan perguruan tinggi, dengan porsi beasiswa LPDP untuk bidang STEM yang meningkat hingga 67 persen pada 2025 dari 58 persen pada 2024, sebagai upaya memperkuat fondasi SDM teknologi.

Namun, pengembangan sekolah unggulan semacam ini juga memicu diskusi kritis di kalangan pakar pendidikan. Beberapa pihak, seperti Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), khawatir bahwa keberadaan sekolah unggulan dapat memperlebar kesenjangan akses terhadap pendidikan berkualitas, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Jejen, seorang dosen komunikasi politik dari Fikom Universitas Pancasila, berpendapat bahwa sekolah unggulan sebaiknya ditujukan untuk "gifted students" atau siswa dengan kecerdasan di atas rata-rata, namun perlu dipastikan bahwa semua anak Indonesia, termasuk dari kaum marjinal, dapat mengaksesnya melalui kuota khusus dan beasiswa penuh. Model pendidikan semi-militer di SMA Taruna Nusantara yang dikenal dengan biaya operasional bulanan dan sumbangan institusi yang tidak murah, menjadi salah satu sorotan terkait isu aksesibilitas.

Meskipun demikian, pendirian SMA Taruna Nusantara Kampus Malang menjadi indikator komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Timur. Provinsi ini mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) yang menempati posisi ketiga nasional dengan skor 77,15 pada Februari 2025. Upaya peningkatan pendidikan STEM juga sejalan dengan pengembangan buku-buku STEM yang disederhanakan dan aplikatif oleh Kemendikdasmen untuk membangun budaya membaca, menulis, dan pembelajaran berbasis buku guna memajukan bangsa. Dengan adanya inisiatif perluasan sekolah unggulan, pemerintah berambisi untuk menciptakan SDM unggul yang mampu bersaing secara global, sekaligus mengatasi ketergantungan Indonesia pada sumber daya alam mentah dan mempercepat transformasi digital.