:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460363/original/016588300_1767247502-Screenshot_2026-01-01_123702.png)
Dini hari Kamis, 1 Januari 2026, banjir bandang menerjang Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyebabkan kepanikan warga, merusak puluhan bangunan, dan memutus akses jalan utama. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 01.45 WIB ini dipicu oleh curah hujan yang sangat tinggi pada malam pergantian tahun, Rabu, 31 Desember 2025, menyebabkan material longsor di hulu Sungai Muaro Pisang turun dan mengakibatkan sungai meluap.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur, menjelaskan bahwa gemuruh suara air dan bebatuan terdengar beberapa kali dari arah hulu sungai, mendorong masyarakat untuk berhamburan keluar rumah dan mengungsi ke sekolah, rumah warga, atau lokasi aman lainnya. Meskipun tidak ada korban jiwa dilaporkan berkat kesigapan warga mengungsi, dampak material yang ditimbulkan cukup parah.
Banjir bandang ini merendam sedikitnya 40 rumah warga dengan tingkat kerusakan bervariasi, beberapa di antaranya dilaporkan mengalami kerusakan berat bahkan hingga tinggal atapnya saja. Selain permukiman, material lumpur dan bebatuan juga menutupi badan jalan provinsi yang menghubungkan Lubuk Basung dan Kota Bukittinggi sepanjang sekitar 30 meter dengan ketinggian satu meter, mengakibatkan akses jalan tersebut putus total dan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Peristiwa ini bukan kejadian tunggal. Maninjau telah berulang kali diterjang banjir bandang dan longsor, tercatat lima kali dalam satu hari pada Kamis, 1 Januari 2026, yang dipicu longsor susulan di Kelok 28 dan Kelok 42. Sejak akhir November 2025 hingga awal Januari 2026, banjir bandang berulang kali terjadi di kawasan tersebut, memaksa ratusan warga mengungsi. Jumlah pengungsi mencapai 428 orang dari 160 kepala keluarga per 2 Januari 2026, bertambah dari 314 jiwa sebelumnya.
Bupati Agam, Benni Warlis, menyatakan bahwa kondisi sungai pasca-banjir mengalami perubahan signifikan, di mana aliran sungai beralih dan semakin melebar, mengancam permukiman warga. Ia meninjau langsung lokasi bencana di Muaro Pisang pada 1 Januari 2026, menekankan perlunya penanganan teknis komprehensif dari hulu hingga hilir, yang membutuhkan kajian keilmuan khusus. Pemerintah Kabupaten Agam telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat serta Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk penanganan tersebut. Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, juga menginstruksikan pengerukan sungai yang mengalami pendangkalan untuk mencegah bencana berulang dan mengimbau warga mengungsi ke tempat lebih aman mengingat curah hujan masih tinggi dan tanah labil.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor dan membuka akses jalan yang terputus, bahkan telah menyiagakan total 341 unit alat berat dan memobilisasi tujuh unit Jembatan Bailey untuk konektivitas. Namun, pekerjaan pembersihan ini bersifat tentatif karena potensi longsor susulan. Salah satu unit alat berat bahkan dilaporkan ikut tertimbun material longsor.
Banjir bandang dan longsor di Maninjau, yang berada di dalam kaldera dan dilingkari perbukitan dengan kondisi tanah labil, menunjukkan kerentanan geografis wilayah tersebut. Fenomena ini diperparah oleh pendangkalan sungai akibat material longsor yang terus-menerus. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan untuk mengurangi potensi dampak bencana susulan. Kondisi mencekam ini membuat warga terus dihantui ketakutan, dengan beberapa memilih mengungsi ke luar daerah seperti Batusangkar, Sawahlunto, Batam, hingga Jakarta. Pemerintah daerah juga berencana membangun hunian sementara bagi warga yang rumahnya rusak berat.