:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465682/original/085123500_1767773592-banjir_bandang_sitaro.jpg)
Tim SAR gabungan pada Rabu, 7 Januari 2026, menemukan jenazah Claiton Azriel Tatambihe, bocah berusia dua tahun, tertimbun di reruntuhan rumahnya di Kampung Laghaeng Lindongan I, Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, setelah hilang pascabanjir bandang pada Senin dini hari, 5 Januari 2026. Penemuan ini meningkatkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi tersebut menjadi 17 orang. Sementara itu, dua warga lainnya, Andris Pianaung dan Leonel Pianaung, ayah dan anak dari Kampung Bahu, masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian tim gabungan.
Banjir bandang menerjang empat kecamatan di Kepulauan Sitaro, meliputi Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan, sekitar pukul 02.30 WITA pada 5 Januari 2026, menyusul hujan dengan intensitas lebat yang berlangsung selama kurang lebih lima jam tanpa henti. Bencana ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang menyebabkan luapan sungai dan aliran puing (debris flow) yang sangat destruktif. Dosen Teknik Geologi Universitas Prisma, Agus Santoso Budiharso, menjelaskan bahwa kondisi geomorfologi di wilayah kepulauan vulkanik seperti Pulau Siau, dengan lereng curam Gunung Karangetang serta jaringan sungai yang pendek, sempit, dan berkemiringan tajam, menyebabkan air hujan terkonsentrasi dan mencapai permukiman di kaki gunung dalam waktu singkat. Tanah vulkanik yang cepat jenuh air pada hujan ekstrem dapat kehilangan kekuatan gesernya, mengakibatkan akar pohon tercabut dan material vulkanik terbawa bersama aliran air.
Dampak bencana meluas, dengan sedikitnya 682 jiwa mengungsi ke tempat aman seperti gedung gereja dan rumah warga yang tidak terdampak. Setidaknya 24 orang mengalami luka-luka, dengan beberapa di antaranya dirujuk ke rumah sakit di Manado. Kerusakan infrastruktur juga signifikan, mencakup 30 unit rumah hilang atau hanyut, 52 unit rusak berat, 29 unit rusak sedang, dan 89 unit rusak ringan. Markas Komando (Mako) Polres Kepulauan Sitaro bahkan tertimbun material bebatuan dan lumpur, menyebabkan empat personel polisi luka-luka. Selain itu, tiga fasilitas pendidikan dan lima jembatan, termasuk jembatan penghubung Kampung Bumbiha, turut mengalami kerusakan. Akses jalan di beberapa wilayah juga terputus, menghambat upaya mobilisasi bantuan.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung mulai 5 hingga 18 Januari 2026. Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa kendala mitigasi turut berkontribusi pada bencana ini, menegaskan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi lanjutan.
Sebagai respons jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Sitaro sedang merancang skema pemulihan dan relokasi bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat atau hilang. Rencana ini mencakup pemetaan risiko berkala menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS), penguatan infrastruktur seperti bangunan tahan bencana dan sistem drainase, serta peningkatan pendidikan dan kesadaran masyarakat melalui pelatihan kebencanaan dan kampanye informasi. Kolaborasi lintas lembaga dan pengembangan sistem peringatan dini juga menjadi fokus. Deputi Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menekankan pentingnya pendataan dan penanganan khusus bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas di pengungsian. BNPB juga mengupayakan skema Dana Tunggu Hunian (DTH) untuk membantu warga mendapatkan tempat tinggal sementara. Langkah-langkah ini penting untuk meminimalkan kerentanan masyarakat di masa depan, mengingat karakteristik geografis Sitaro yang memang rawan terhadap bencana hidrometeorologi.