
Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang intens, meluncurkan awan panas guguran sejauh 5 kilometer pada Minggu malam, 11 Januari 2026. Insiden ini terjadi di tengah status Siaga (Level III) gunung tersebut, mendorong Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memperingatkan warga di Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, agar tetap mematuhi zona bahaya yang telah ditetapkan.
PVMBG melaporkan bahwa awan panas guguran tersebut teramati meluncur ke sektor tenggara, menuju Besuk Kobokan. Sebelumnya, pada Jumat sore, 9 Januari 2026, Semeru juga meletus dengan kolom abu mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 meter di atas permukaan laut, disertai luncuran awan panas hingga 5 kilometer. Data seismik pada Minggu, 11 Januari 2026, dari pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, mencatat 42 kali gempa letusan/erupsi. Sementara dalam enam jam sebelumnya, terjadi 30 kali gempa letusan.
Aktivitas vulkanik Semeru yang berulang ini secara konsisten menghadirkan ancaman signifikan bagi masyarakat di lerengnya. Rekomendasi PVMBG melarang segala aktivitas dalam radius 13 kilometer dari puncak di sepanjang Besuk Kobokan, dan juga dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dingin yang dapat mencapai 17 kilometer dari puncak. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan bahaya lontaran batu pijar.
Sejarah mencatat Semeru sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia dengan riwayat letusan merusak sejak 1818. Gunung ini telah mengalami setidaknya 61 periode letusan, 11 di antaranya mengakibatkan korban jiwa, dan berada dalam kondisi letusan yang hampir konstan sejak 1967. Letusan besar pada tahun 1941, 1985, 1994, dan 2009 menelan banyak korban. Erupsi dahsyat pada Desember 2021 menyebabkan 22 korban meninggal dunia, 27 orang hilang, puluhan luka-luka, dan lebih dari 2.000 warga mengungsi.
Dampak erupsi Semeru tidak hanya terbatas pada kejadian langsung. Pada November 2025, erupsi Gunung Semeru mengakibatkan tiga warga mengalami luka berat, 204,63 hektare lahan pertanian rusak, 21 unit rumah rusak berat, serta merusak fasilitas pendidikan, kesehatan, dan gardu PLN. Sebanyak 528 warga terpaksa mengungsi. Di periode yang sama, laporan lain menyebutkan 200 rumah rusak dan 124 ternak mati di Lumajang, menyebabkan Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa bantuan logistik dan kebutuhan dasar telah disalurkan untuk meringankan beban para pengungsi.
Para ahli vulkanologi menjelaskan bahwa letusan gunung api dapat dipicu oleh beberapa faktor, termasuk volume dapur magma yang penuh, longsoran di dapur magma akibat pengkristalan, atau aktivitas di atas dapur magma. M. Haris Miftakhul Fajar, pakar geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menyoroti bahwa peningkatan aktivitas vulkanik Semeru sejak November 2021 mengindikasikan akumulasi material vulkanik di sekitar kawah. Penumpukan material ini meningkatkan ketidakstabilan lereng, terutama karena material erupsi Semeru yang tidak terkonsolidasi sangat mudah tergerus dan runtuh, diperparah oleh cuaca ekstrem. Fenomena ini menjelaskan mengapa awan panas guguran dapat meluncur tiba-tiba tanpa gempa erupsi yang besar dirasakan oleh warga. Pakar vulkanologi Surono sempat menyatakan keterkejutannya atas erupsi Semeru yang kuat, mempertanyakan apakah tanda-tanda tidak terpantau dengan jelas, mengingat awan panas guguran seringkali sulit diprediksi.
Karakteristik Semeru sebagai gunung api aktif berkelanjutan menuntut kewaspadaan konstan dan strategi mitigasi bencana yang adaptif. Pemerintah daerah bersama berbagai unsur terkait terus melakukan pemantauan intensif dan koordinasi lapangan untuk memastikan keselamatan warga. Namun, implikasi jangka panjang dari letusan yang berulang ini mencakup degradasi lingkungan, kerugian ekonomi bagi masyarakat agraris, serta tantangan dalam pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan di wilayah rawan bencana. Mitigasi bukan hanya tentang respons darurat, tetapi juga perencanaan tata ruang yang ketat dan edukasi berkelanjutan untuk membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman gunung api.