:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476549/original/066831900_1768790747-1.jpg)
Tim SAR gabungan pada Rabu, 21 Januari 2026, menemukan bagian tubuh korban ketiga dari insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT) di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Penemuan ini mempertegas tantangan medan ekstrem dalam operasi pencarian yang telah berlangsung sejak pesawat hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii, mengonfirmasi penemuan tersebut pada pukul 12.30 WITA, meskipun jenis kelamin korban belum dapat dipastikan karena temuan berupa potongan tubuh. Proses evakuasi jenazah, yang mayoritas dilakukan di tebing dan jurang, masih menghadapi kendala cuaca dan medan yang sangat terjal. Kolonel Infanteri Abi Kusnianto, Asisten Resimen Kodam (Asrem) XIV/Hasanuddin, menambahkan bahwa potongan tubuh berupa tangan ditemukan sekitar 70 meter dari lokasi penemuan jasad korban pertama. Temuan ini telah diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk identifikasi lebih lanjut.
Insiden ini bermula ketika pesawat ATR 42-500, yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi surveilans di wilayah perairan Indonesia, lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar pada pukul 08.08 WIB. Pesawat tersebut membawa 10 orang, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang dari KKP. Kontak terakhir dengan Air Traffic Control (ATC) Makassar terjadi pada pukul 13.17 WITA, sesaat sebelum pesawat dinyatakan hilang kontak pada pukul 13.37 WITA. ATC sempat memberikan instruksi koreksi posisi setelah mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, namun komunikasi terputus tak lama setelahnya.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengategorikan kecelakaan ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), mengindikasikan bahwa pesawat masih dalam kendali awak namun menabrak medan atau lereng gunung. Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa pesawat menabrak lereng Gunung Bulusaraung dan pecah menjadi beberapa bagian. KNKT juga menyebutkan adanya keluhan masalah mesin tiga hari sebelum kecelakaan, namun tidak ada laporan kerusakan pada hari keberangkatan. Pencarian kotak hitam (black box) menjadi prioritas utama KNKT untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan, dan perangkat tersebut telah berhasil ditemukan serta diserahkan ke KNKT untuk investigasi.
Sebelumnya, tim SAR telah menemukan dua korban lainnya. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada Minggu, 18 Januari 2026, di jurang sedalam sekitar 200 meter. Korban kedua, berjenis kelamin perempuan, ditemukan pada Senin, 19 Januari 2026, dan berhasil diidentifikasi sebagai pramugari Florencia Lolita Wibisono melalui sidik jari. Kondisi medan yang sangat terjal, di tebing dan jurang Gunung Bulusaraung, dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak, menjadi tantangan signifikan bagi upaya evakuasi. Kepala Basarnas Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mencatat bahwa tim beroperasi di tengah hujan lebat dan kabut tebal yang membatasi jarak pandang hingga lima meter.
Insiden ini menyoroti kompleksitas operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah pegunungan yang sulit dijangkau, serta implikasi terhadap standar keselamatan penerbangan, khususnya untuk pesawat jenis ATR di Indonesia. Investigasi mendalam oleh KNKT diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai faktor-faktor penyebab kecelakaan, termasuk pengaruh cuaca, kondisi operasional, dan aspek teknis pesawat, guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Upaya identifikasi korban melalui tim DVI Polri terus berlanjut, didukung oleh pengambilan sampel DNA dari keluarga korban.