:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462925/original/039988300_1767594158-banjir_bandang_sulut.jpg)
Banjir bandang dan tanah longsor menerjang Pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin, 5 Januari 2026, dini hari sekitar pukul 02.30 WITA, menewaskan sedikitnya 14 orang dan menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur serta permukiman warga. Bencana ini dipicu oleh hujan lebat yang berlangsung selama kurang lebih lima jam disertai angin kencang, mengakibatkan luapan air bercampur material vulkanik dari lereng Gunung Karangetang.
Data terbaru dari Komando Daerah Militer XIII/Merdeka melalui Kapendam Kolonel Inf Daniel E. S. Lalawi mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia mencapai 14 orang. Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sembilan orang tewas, lima orang dalam pencarian, dan 17 orang mengalami luka-luka. Empat warga, termasuk seorang bayi bernama Kairi Kansil, masih dinyatakan hilang. Sementara itu, 102 jiwa telah mengungsi di gedung GMIST Bethbara, dan total 35 kepala keluarga atau 108 jiwa dievakuasi ke Kantor Kelurahan Bahu sebelum dipindahkan ke Museum Kelurahan Tarorane di Kecamatan Siau Timur.
Bupati Kepulauan Sitaro, Cinthya Ingrid Kalangit, melalui Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Sitaro, Deddy Passandaran, menyebutkan enam nama korban meninggal dunia pada laporan awal, yakni Ratmon Bangsa, Fardelin Tamalonggehe, Yance Tamalonggehe, Lorensi Bawolce, Yoan Bangsa, dan Santi Diamanis. Namun, daftar korban bertambah mencakup Juanita Erlina Bangsa, El Kamanangan, Rakmon Bangsa, Joan Bangsa, Florensi Bawonte, Santi Diamanis, Angkol Tamalongehe, Kairi Kansil (bayi), Yance Tamalongehe, Lorensi Bawolce, Rafles Kobis, Hermina Maningide, Alvian Anise, Alixius Olongsongke, dan Silvia Pamondolang.
Bencana melanda tiga kecamatan utama: Siau Timur, Siau Timur Selatan, dan Siau Barat. Kelurahan Bahu di Kecamatan Siau Timur menjadi salah satu area terdampak paling parah, di mana material batuan dan lumpur memenuhi jalanan dan meluber hingga ke permukiman warga. Lima unit rumah dilaporkan hilang terseret arus, sementara puluhan rumah lainnya mengalami kerusakan berat. Akses jalan utama yang menghubungkan Kelurahan Bahu dengan Pangirolong di Kecamatan Siau Timur dan Siau Timur Selatan, serta jalur menuju Markas Komando (Mako) Polres Kepulauan Sitaro, terputus total akibat timbunan material longsor. Mako Polres Sitaro sendiri tertimbun material hingga setengah bangunan dengan 50 persen fasilitas penunjang rusak. Jaringan listrik dan telekomunikasi di wilayah terdampak juga terputus, mempersulit upaya penanganan dan komunikasi.
Secara geografis, Pulau Siau merupakan kepulauan vulkanik dengan Gunung Karangetang sebagai gunung api aktif. Agus Santoso Budiharso, Dosen Teknik Geologi Universitas Prisma, menjelaskan bahwa lanskap yang didominasi lereng curam dengan jaringan sungai pendek, sempit, dan berkemiringan tajam menyebabkan air hujan terkonsentrasi dan mencapai permukiman di kaki gunung dalam waktu sangat singkat, seringkali hanya dalam hitungan menit. Meskipun tampak hijau dan subur, vegetasi lebat tidak selalu menjamin keamanan. Pada hujan ekstrem, tanah vulkanik yang cepat jenuh air dapat kehilangan kekuatan gesernya, mengakibatkan pohon tercabut, serta batang kayu, batuan, dan material vulkanik terangkut bersama aliran air membentuk aliran puing yang sangat merusak (debris flow).
Tim gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD Kabupaten Sitaro, TNI, Polri, dan tim SAR masih terus melakukan evakuasi dan pencarian korban hilang. Namun, kendala utama di lapangan adalah penyesuaian jadwal penyeberangan kapal menuju Kabupaten Kepulauan Sitaro, yang menghambat mobilisasi sumber daya. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro telah menetapkan status siaga darurat bencana dan mengerahkan seluruh sumber daya untuk penanganan dampak banjir bandang.
Implikasi jangka panjang dari bencana ini mencakup pemulihan infrastruktur yang signifikan, penanganan trauma masyarakat, serta evaluasi ulang terhadap tata ruang dan mitigasi bencana di wilayah dengan karakteristik geologi rentan seperti Pulau Siau. Peningkatan curah hujan ekstrem di masa depan, yang berpotensi diperparah oleh perubahan iklim, menuntut kebijakan adaptasi yang lebih kokoh untuk melindungi masyarakat yang tinggal di lereng gunung api aktif.