Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kupang Siaga! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Imbas Bibit Siklon Tropis Australia

2026-01-19 | 01:45 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T18:45:20Z
Ruang Iklan

Kupang Siaga! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Imbas Bibit Siklon Tropis Australia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berlaku hingga 23 Januari 2026. Peringatan ini disampaikan menyusul terdeteksinya Bibit Siklon Tropis 97S di perairan utara Benua Australia, dekat Kota Darwin, yang memicu potensi hujan sangat lebat disertai petir dan angin kencang di sebagian besar wilayah NTT.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenotek, pada Minggu, 18 Januari 2026, menjelaskan bahwa Bibit Siklon Tropis 97S ini, yang juga diidentifikasi oleh Biro Meteorologi Australia sebagai Tropical Low 16U, saat ini bergerak ke arah barat di sekitar Laut Timor. Meskipun memiliki peluang rendah untuk segera berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan, Biro Meteorologi Australia memproyeksikan potensi tinggi pembentukan siklon tropis di lepas pantai barat laut Australia pada pertengahan pekan ini, sekitar 22 Januari 2026. Dinamika atmosfer ini diperparah oleh menguatnya Monsun Asia serta aktifnya gelombang ekuatorial Rossby, Kelvin, dan Madden Julian Oscillation (MJO) yang secara signifikan mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan berskala besar di NTT.

Hampir seluruh kabupaten dan kota di NTT berada dalam zona kewaspadaan, termasuk Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Lembata, Flores Timur, Alor, Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, serta seluruh wilayah Pulau Sumba. BMKG juga mengingatkan potensi gelombang laut tinggi, dengan ketinggian sedang antara 1,25 hingga 2,5 meter di Laut Banda dan perairan sekitar Kepulauan Kei hingga Aru, serta Kepulauan Babar dan Tanimbar. Sementara itu, gelombang tinggi mencapai 2,5 hingga 4,0 meter diperkirakan terjadi di Perairan Kupang, Laut Sawu, Samudra Hindia selatan NTT, dan Laut Arafuru bagian barat. Pola angin di NTT umumnya bergerak dari barat daya ke barat laut dengan kecepatan dapat mencapai 35 knot.

Kepala BPBD NTT, Samuel Halundaka, menambahkan bahwa dampak cuaca ekstrem ini mencakup risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga banjir lahar hujan di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur. Masyarakat diimbau untuk memangkas ranting pohon di sekitar rumah yang berisiko tumbang dan menghindari aktivitas di sekitar aliran sungai dalam jarak 10-20 meter. Sti Nenotek menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa kepanikan, serta menyesuaikan rencana aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan di luar ruangan.

Peristiwa cuaca ekstrem di NTT bukan kali pertama terjadi. Nusa Tenggara Timur memiliki sejarah panjang terpapar dampak siklon tropis, dengan Siklon Tropis Seroja pada April 2021 menjadi preseden bencana hidrometeorologi paling mematikan di kawasan Indonesia timur. Seroja, yang terbentuk secara anomali di perairan selatan NTT, memicu curah hujan ekstrem hingga 332,1 milimeter per hari di Kupang, rekor tertinggi saat itu, serta menyebabkan 181 korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang parah. Ketua Forum Penanggulangan Risiko Bencana (PRB) NTT, Norman Riwu Kaho, membandingkan Bibit Siklon 97S dengan Seroja, menyebutkan bahwa sistem saat ini masih berupa area tekanan rendah dengan sirkulasi yang belum terorganisir dan relatif jauh dari NTT. Namun, kondisi ini memperkuat indikasi bahwa wilayah ini semakin rentan terhadap fenomena iklim ekstrem.

Peningkatan frekuensi kejadian siklon tropis di Indonesia, dengan catatan selalu terjadi setiap tahun sejak 2017, menimbulkan pertanyaan serius mengenai adaptasi jangka panjang. Para ahli sebelumnya telah menghubungkan intensitas Siklon Seroja dengan tren pemanasan global dan kenaikan suhu muka air laut. Saat ini, NTT sedang berada pada puncak musim hujan, yang menambah kompleksitas risiko bencana. Kesiapsiagaan yang komprehensif, mulai dari tingkat individu hingga pemerintah daerah, menjadi krusial untuk meminimalisir kerugian material dan korban jiwa di tengah ancaman cuaca ekstrem yang semakin dinamis dan tak terduga.