Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

TNI Tanam 1.000 Mangrove: Aksi Nyata Lawan Krisis Iklim

2026-01-16 | 06:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T23:26:19Z
Ruang Iklan

TNI Tanam 1.000 Mangrove: Aksi Nyata Lawan Krisis Iklim

Manokwari, 9 Januari 2026 – Tentara Nasional Indonesia (TNI), melalui Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Bambang Trisnohadi, melaksanakan operasi penghijauan dengan menanam 1.500 pohon mangrove di Pantai Saubeba, Distrik Manokwari Utara, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim yang intensif dan respons terhadap kerentanan ekosistem pesisir di wilayah Maluku dan Papua.

Operasi penghijauan ini bertepatan dengan peringatan Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia, menunjukkan komitmen TNI dalam menjaga stabilitas lingkungan maritim. Letjen TNI Bambang Trisnohadi menegaskan bahwa pemilihan mangrove didasarkan pada nilai strategisnya yang krusial bagi kehidupan masyarakat dan ekosistem Papua Barat. “Mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga garis pantai, ekosistem laut, serta mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Letjen TNI Bambang Trisnohadi. Mangrove juga berfungsi sebagai penyerap karbon dalam jumlah besar, berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca, dan karenanya vital dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Wilayah Maluku dan Papua secara historis menghadapi ancaman signifikan dari dampak perubahan iklim global. Studi menunjukkan bahwa daerah pesisir Maluku sangat rentan terhadap pemanasan global, kenaikan permukaan air laut, dan perubahan parameter oseanografi seperti suhu, salinitas, dan arus laut, yang secara langsung memengaruhi ekosistem laut, terumbu karang, dan habitat perikanan. Kenaikan permukaan laut berisiko menenggelamkan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, sementara infrastruktur seperti jalan dan penahan ombak kerap rusak akibat hantaman gelombang besar. Kondisi ini juga mengganggu pasokan air bersih masyarakat yang tercampur air laut, memaksa warga di beberapa negeri pesisir Maluku, seperti Asilulu, menggunakan air laut untuk kebutuhan sehari-hari.

Indonesia sendiri, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki hutan mangrove terluas, mencakup 20-25% dari total ekosistem mangrove global. Data dari Peta Mangrove Nasional Tahun 2024 menunjukkan Maluku memiliki 47.783 hektar mangrove eksisting, sementara Provinsi Papua memiliki 162.262 hektar, Papua Barat 326.593 hektar, dan Papua Barat Daya 154.285 hektar. Papua juga tercatat memiliki sebagian besar kawasan mangrove di Indonesia, sekitar 69-80% dari total tutupan mangrove nasional. Ekosistem ini merupakan pelindung alami pantai dari abrasi, gelombang besar, bahkan tsunami, serta menjadi habitat penting (nursery, feeding, spawning ground) bagi berbagai biota perairan seperti ikan, kepiting, dan udang.

Upaya penghijauan ini bukan kali pertama bagi TNI. Pada 15 Mei 2023, TNI secara serentak menanam lebih dari 1,1 juta bibit mangrove di 370 lokasi di 37 provinsi, sebuah inisiatif yang diapresiasi langsung oleh Presiden Joko Widodo. Presiden Jokowi kala itu menekankan pentingnya merawat 3,3 juta hektar hutan mangrove Indonesia, yang merupakan yang terbesar di dunia. Mantan Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono juga menegaskan bahwa penanaman mangrove bermanfaat untuk aspek pertahanan pantai, mengingat geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Komandan Lanal Mataram Kolonel Marinir A. Hadi Alhasny, dalam kegiatan penanaman mangrove di Pantai Cemara, Lombok Barat pada Agustus 2025, turut menekankan peran TNI AL dalam menjaga kedaulatan laut dan kelestarian lingkungan maritim demi kesejahteraan masyarakat dan generasi mendatang.

Asisten I Setda Maluku, Semuel E. Huwae, sebelumnya menyatakan bahwa Pemerintah Maluku telah mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam dokumen rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Maluku 2019-2024, termasuk penyusunan peta jalan rencana aksi daerah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Integrasi ini menunjukkan pengakuan akan urgensi masalah dan perlunya pendekatan kolaboratif lintas sektor. Profesor Sukardi dari Universitas Muhammadiyah Mataram juga menyoroti bahwa penanaman mangrove dilakukan berdasarkan kajian ilmiah mendalam untuk memastikan keberhasilan.

Letjen TNI Bambang Trisnohadi berharap, meskipun terlihat kecil dari target jutaan pohon, kegiatan penanaman 1.500 mangrove di Manokwari ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi pelestarian lingkungan dan menjadi investasi lingkungan untuk mewujudkan Papua Barat yang lebih hijau dan lestari. Komitmen berkelanjutan dari TNI, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, memastikan bahwa ekosistem pesisir yang rentan di Maluku dan Papua tetap terjaga dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi generasi mendatang.