Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tim SAR Terkendala Medan Ekstrem: Evakuasi Jenazah ATR 42-500 dari Jurang 200 Meter

2026-01-18 | 18:57 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T11:57:39Z
Ruang Iklan

Tim SAR Terkendala Medan Ekstrem: Evakuasi Jenazah ATR 42-500 dari Jurang 200 Meter

Tim penyelamat gabungan menghadapi tantangan ekstrem dalam upaya evakuasi satu jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang ditemukan di jurang sedalam sekitar 200 meter di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1). Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT, yang membawa delapan kru dan tiga penumpang dalam misi pemantauan sumber daya kelautan dan perikanan, dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) siang dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengonfirmasi penemuan satu jenazah berjenis kelamin laki-laki pada pukul 14.20 WITA, Minggu. Jenazah tersebut berada di koordinat 04°54'44" Lintang Selatan dan 119°44'48" Bujur Timur, di lokasi yang sangat sulit dijangkau. "Korban berada di kedalaman jurang kurang lebih 200 meter dan ditemukan di sekitar serpihan pesawat. Saat ini proses evakuasi masih berlangsung," kata Arif Anwar, menambahkan bahwa tim harus menggunakan teknik vertikal rescue dengan peralatan mountaineering lengkap untuk menjangkau lokasi.

Kecelakaan ini, yang oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), terjadi setelah pesawat dilaporkan mengalami masalah teknik pada mesin sehari sebelum insiden. Direktur Operasional Indonesia Air Transport, Capt. Edwin, membenarkan adanya gangguan teknis pada Jumat (16/1) yang sempat diperbaiki dan dinyatakan normal setelah uji terbang. Pesawat berusia 26 tahun ini menghantam lereng Gunung Bulusaraung, dengan saksi mata melaporkan melihat pesawat melintas rendah sebelum meledak dan terbakar.

Kondisi medan yang terjal, ditambah cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan kabut tebal dengan jarak pandang hanya sekitar 5 hingga 10 meter, menjadi hambatan utama bagi 376 personel tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Kopasgat, dan relawan. Kepala BPBD Makassar, Fadli Tahir, menjelaskan bahwa kondisi ini secara signifikan memperlambat pergerakan tim darat dan bahkan sempat membatalkan upaya penurunan vertikal demi keselamatan personel. Evakuasi sembilan korban lainnya yang masih dicari, serta seluruh puing pesawat, diperkirakan akan sangat bergantung pada membaiknya kondisi cuaca untuk memungkinkan penggunaan helikopter TNI AU.

Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, menyatakan bahwa tim SAR berupaya maksimal dan terukur, dengan setiap langkah berdasarkan analisis risiko di lapangan. Sementara itu, Polda Sulawesi Selatan telah membentuk tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk mempercepat proses identifikasi korban. Tim DVI akan melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem di Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) Dodi Sarjito di Makassar, sebagai pusat operasi identifikasi. Insiden ini menyoroti kompleksitas operasi SAR di wilayah pegunungan Indonesia yang terpencil dan rawan cuaca, serta pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap standar keselamatan penerbangan regional, khususnya untuk misi-misi khusus seperti pengawasan maritim. Tantangan serupa di masa lalu, seperti insiden pesawat yang jatuh di medan sulit di wilayah timur Indonesia, telah menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas dan teknologi SAR untuk menghadapi kondisi geografis yang ekstrem.