Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Darah Angkot di Tangerang: Anak Habisi Ayah Kandung Karena Uang

2026-01-18 | 19:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T12:06:11Z
Ruang Iklan

Darah Angkot di Tangerang: Anak Habisi Ayah Kandung Karena Uang

Seorang pria berinisial FK, 38 tahun, ditangkap kepolisian setelah diduga membunuh ayah kandungnya, LHN, 75 tahun, di Desa Kampung Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Tangerang. Insiden tragis ini terjadi pada Sabtu, 10 Januari 2026, sekitar pukul 01.00 WIB, dengan motif utama kebutuhan finansial untuk memperbaiki angkutan kota miliknya dan memenuhi kebutuhan keluarga, yang diperparah janji uang hasil penjualan rumah dari korban yang belum terpenuhi.

Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menjelaskan bahwa kasus pembunuhan tersebut terungkap setelah adik kandung korban menemukan LHN tidak bernyawa di rumahnya. Menurut keterangan saksi, FK diduga melakukan kekerasan dengan mencekik dan memukul korban menggunakan balok kayu. Setelah korban terjatuh, tersangka melanjutkan memukuli wajah korban beberapa kali menggunakan hebel, menyebabkan pendarahan dan luka retak pada kepala yang berujung pada kematian korban. Setelah kejadian, tersangka terlihat meninggalkan lokasi.

Kasus ini menyoroti kerentanan keluarga terhadap tekanan ekonomi yang ekstrem, khususnya di tengah tantangan mencari nafkah. Kebutuhan FK untuk memperbaiki angkot, yang menjadi sumber penghasilan, dan janji penjualan rumah yang belum terealisasi menunjukkan adanya konflik finansial yang mendalam. Psikolog Irfan Aulia, seperti dikutip pada 4 Januari 2026, menegaskan bahwa faktor ekonomi adalah salah satu permasalahan terberat yang dapat menggoyahkan stabilitas keluarga. Banyak rumah tangga menghadapi tekanan ekonomi yang berujung pada peningkatan konflik, bahkan berpotensi kekerasan, ketika pendapatan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Insiden serupa yang dilatarbelakangi masalah uang juga pernah terjadi di Tangerang. Pada 17 Oktober 2025, seorang pria berinisial MS (38) tega membunuh ayahnya AT (65) di Desa Kedung Dalem, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, karena tidak diberi uang untuk membeli rokok. Dalam kasus tersebut, MS diduga memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa pada tahun 2023. Penyelidikan kepolisian terus berlangsung untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku dalam kasus Mauk ini.

Tekanan ekonomi seringkali tidak hanya memicu konflik interpersonal, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental individu. Psikolog Diana Setiyawati dari Centre of Public Mental Health Fakultas Psikologi UGM, pada 5 Mei 2024, mengemukakan bahwa masalah ekonomi dapat memicu ketidakstabilan jiwa, terutama bagi individu yang sudah memiliki kerentanan sebelumnya, sehingga berpotensi memunculkan perilaku negatif. Fenomena ini selaras dengan peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang cenderung meningkat di Indonesia, meski data nasional spesifik mengenai alasan kekerasan masih terbatas. Pusiknas Bareskrim Polri mencatat 12.063 kasus KDRT sejak awal tahun hingga Oktober 2025, dengan korban perempuan dan anak menjadi yang paling rentan.

Kasus di Sepatan Timur ini menjadi pengingat serius akan dampak destruktif dari tekanan finansial yang tidak terkelola dengan baik dalam unit keluarga. Ini menekankan pentingnya intervensi dini, termasuk akses ke dukungan psikologis dan konseling keuangan, untuk mencegah eskalasi konflik menjadi tragedi. Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan program-program bantuan ekonomi, pelatihan kerja, serta layanan konseling keluarga untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah guncangan ekonomi. Tanpa dukungan komprehensif, kasus-kasus kekerasan yang dipicu oleh keputusasaan ekonomi dapat terus berulang, meninggalkan luka mendalam bagi individu dan masyarakat.