:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465388/original/095397800_1767766931-1001475772.jpg)
Tim SAR gabungan pada Selasa, 6 Januari 2026, menemukan satu jenazah diduga warga negara Spanyol di dalam bangkai kapal wisata KM Putri Sakinah yang karam di perairan Pulau Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Penemuan ini terjadi pada hari ke-12 operasi pencarian setelah nelayan setempat mencium bau menyengat dari reruntuhan kapal yang terseret arus dan terdampar. Jenazah tersebut, yang diduga kuat merupakan salah satu dari dua anak WNA Spanyol yang sebelumnya masih hilang, ditemukan sekitar pukul 14.30 WITA pada koordinat 08°36'35,139" LS dan 119°40'36,826" BT, sekitar 7,48 mil laut dari lokasi awal tenggelamnya kapal.
Penemuan ini bermula ketika nelayan Pulau Komodo menemukan bangkai kamar kapal yang diyakini merupakan bagian dari KM Putri Sakinah. Setelah bangkai ditarik ke pesisir dan tercium bau menyengat, tim SAR gabungan, yang dikoordinasikan oleh Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman, segera mengevakuasi jenazah menggunakan KN SAR Puntadewa 250 menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo untuk diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polres Manggarai Barat di RSUD Komodo. Hasil identifikasi awal oleh Tim DVI Polda NTT mengindikasikan jenazah berjenis kelamin laki-laki, berusia sekitar 10 tahun, dan dipastikan merupakan WNA asal Spanyol. Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra menyatakan bahwa Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko memberikan atensi penuh terhadap proses identifikasi yang harus dilakukan secara profesional, teliti, dan mengedepankan standar kemanusiaan internasional, mengingat korban adalah anak dan warga negara asing.
KM Putri Sakinah, kapal wisata jenis semi-pinisi berkapasitas 27 gros ton, tenggelam di perairan Pulau Padar, Labuan Bajo, pada Jumat malam, 26 Desember 2025. Kapal tersebut mengangkut 11 orang, terdiri dari enam wisatawan asing asal Spanyol, satu pemandu wisata, dan empat kru kapal. Tujuh orang berhasil diselamatkan tak lama setelah kejadian. Penyebab utama insiden ini diduga akibat kombinasi gelombang tinggi mendadak (swell) dan kegagalan mesin saat kapal berlayar dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar. Investigasi lebih lanjut juga mendalami dugaan modifikasi lambung kapal, seperti penambahan dek dan kamar, yang berpotensi mengurangi stabilitas kapal dan membuatnya rentan terhadap cuaca buruk. Hal ini mengindikasikan masalah struktural dalam pengawasan kelaikan kapal wisata di destinasi superprioritas.
Keluarga asal Spanyol yang menjadi korban adalah Fernando Martin Carreras, pelatih tim sepak bola putri klub Valencia, istrinya Ortuno Andrea, dan empat anaknya: Martin Garcia Mateo, Martines Ortuno Maria Lia, Martines Ortuno Enriquejavier, dan Mar Martinez Ortuno. Sebelumnya, jasad Fernando Martin Carreras ditemukan pada 4 Januari 2026, dan jasad anaknya, Martines Ortuno Maria Lia, ditemukan pada 29 Desember 2025. Istri Fernando, Ortuno Andrea, dan anak bungsu mereka, Mar Martinez Ortuno, berhasil selamat. Dengan penemuan terbaru ini, jumlah korban hilang dalam tragedi KM Putri Sakinah kini tersisa satu orang, yang kemungkinan adalah salah satu dari dua anak laki-laki Fernando, yakni Martin Garcia Mateo atau Martines Ortuno Enriquejavier. Operasi pencarian diperpanjang hingga Rabu, 7 Januari 2026.
Insiden tenggelamnya KM Putri Sakinah telah memicu sorotan tajam terhadap standar keselamatan maritim di Labuan Bajo, yang merupakan salah satu destinasi pariwisata superprioritas Indonesia. Pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) telah mengirimkan tim khusus untuk memantau dan mengoordinasikan penanganan di lapangan, dengan tujuan memberikan rekomendasi konkret kepada Presiden RI dan kementerian/lembaga terkait guna memastikan kejadian serupa tidak terulang. Isu modifikasi kapal yang tidak sesuai standar keamanan menjadi perhatian serius, mengingat praktik semacam itu banyak ditemukan pada kapal-kapal wisata di Labuan Bajo. Tragedi ini menggarisbawahi urgensi penegakan regulasi keselamatan pelayaran yang lebih ketat, peningkatan pengawasan teknis kapal, serta evaluasi komprehensif terhadap faktor manusia dan teknis yang sering menjadi penyebab kecelakaan laut di perairan Indonesia.