Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Semeru Awas: Kiat Tetap Tenang dan Siaga Hadapi Potensi Erupsi

2025-11-28 | 06:17 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-27T23:17:30Z
Ruang Iklan

Semeru Awas: Kiat Tetap Tenang dan Siaga Hadapi Potensi Erupsi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara konsisten mempertahankan status Gunung Semeru di Level IV atau Awas, tingkat peringatan tertinggi, menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang telah dikeluarkan.

Peningkatan status menjadi Level IV (Awas) ditetapkan pada 19 November 2025, setelah Semeru menunjukkan erupsi dahsyat. Pada hari itu, pukul 16.00 WIB, terjadi erupsi yang menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 2.000 meter di atas puncak, diikuti oleh luncuran awan panas guguran yang mencapai jarak 13 kilometer ke arah Besuk Kobokan dan Sungai Lengkong. Status Semeru dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada pukul 16.00 WIB, kemudian secara cepat ditingkatkan kembali menjadi Level IV (Awas) pada pukul 17.00 WIB.

Aktivitas vulkanik Semeru masih terus berlanjut. Tercatat, gunung api ini mengalami 37 kali erupsi dalam seminggu terakhir hingga 27 November 2025. Erupsi juga terjadi berulang kali pada 24 dan 25 November 2025, dengan kolom abu mencapai ketinggian 800 hingga 1.000 meter. Aktivitas kegempaan juga masih tinggi, didominasi oleh gempa letusan, guguran, dan harmonik, yang mengindikasikan adanya suplai magma dari bawah permukaan. Luncuran lava pijar juga terpantau intensif mengarah ke Besuk Kobokan.

Menanggapi kondisi ini, PVMBG telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi keselamatan masyarakat. Warga dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan, hingga jarak 20 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi dilanda perluasan awan panas dan aliran lahar. Selain itu, tidak diperbolehkan ada aktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.

Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar yang dapat sewaktu-waktu melintas di sepanjang sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungainya. Seluruh kegiatan pendakian Gunung Semeru, termasuk ke Ranu Kumbolo, telah ditutup sementara hingga kondisi dinyatakan aman.

Dampak dari erupsi pada 19 November 2025, sekitar 187 orang termasuk pendaki, porter, pemandu, dan petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) sempat berada di Ranu Kumbolo, namun berhasil dievakuasi dengan aman pada 20 November 2025. Lebih dari 300 warga juga mengungsi ke titik-titik aman. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, menyoroti adanya pemukiman warga di zona merah, seperti di Dusun Sumbersari dan Gumukmas, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, yang sebelumnya menolak relokasi. BNPB kini merencanakan relokasi kembali dengan skema yang disesuaikan agar warga tetap dekat dengan mata pencarian mereka. Status tanggap darurat erupsi Semeru diperpanjang hingga 2 Desember 2025. Pemerintah Kabupaten Lumajang juga telah menghentikan total semua aktivitas penambangan pasir di area terdampak.

Petugas Pos Pengamatan Gunungapi Semeru di Gunung Sawur, Mudkas Sofian, menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa status Awas bukan hanya soal jarak di peta, melainkan soal keselamatan. Masyarakat diminta untuk tetap tenang, memeriksa informasi resmi dari PVMBG melalui situs web Badan Geologi atau aplikasi Magma Indonesia, serta tidak terpancing kabar tidak benar atau hoaks. Bagi warga di area yang terdampak hujan abu, penggunaan masker serta pembatasan aktivitas di luar ruangan sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko iritasi pernapasan. Koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk memastikan setiap perubahan aktivitas gunung dapat direspons cepat dan tepat.