Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terkuak: Lubang Misterius Raksasa di Bawah Kediaman Warga Gunungkidul

2026-01-09 | 18:27 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T11:27:23Z
Ruang Iklan

Terkuak: Lubang Misterius Raksasa di Bawah Kediaman Warga Gunungkidul

Lubang tanah besar dan dalam tiba-tiba menganga di bawah rumah warga di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memaksa sebuah keluarga mengungsi dan memicu penyelidikan geologi mendalam oleh otoritas setempat. Peristiwa ini menyoroti kerentanan wilayah karst terhadap fenomena alam yang mengancam pemukiman penduduk. Sujanto, bersama istri Yusriati dan empat anaknya, kini terpaksa menumpang di rumah orang tua setelah kediaman mereka dirobohkan demi keselamatan pada pekan ini menyusul penemuan lubang di bawah lantai rumah mereka.

Yusriati mengungkapkan bahwa air hujan selalu cepat menghilang dari halaman dan sekitar rumahnya, fenomena yang baru ia pahami sebagai indikasi awal adanya rongga di bawah tanah. "Kalau amblesnya terjadi malam hari saat kami tidur, saya tidak berani membayangkan akibatnya," ujarnya, menggambarkan kekhawatiran mendalam yang ia rasakan. Pasca-penemuan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul segera berkoordinasi dengan ahli geologi untuk meneliti penyebab amblesan dan memastikan potensi perluasannya. Lurah Girikarto, Sumardiyanti, menyatakan bahwa BPBD telah turun ke lapangan dan kini menunggu hasil kajian geologi untuk menentukan langkah mitigasi lebih lanjut.

Gunungkidul secara geologis merupakan kawasan pegunungan karst yang didominasi batuan gamping, menjadikannya daerah yang rentan terhadap pembentukan dolina atau sinkhole dan sistem sungai bawah tanah. Kawasan karst ini dikenal memiliki banyak rongga, retakan, dan gua di bawah permukaannya. Ahli geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyu Wilopo, pada tahun 2018 menjelaskan bahwa amblesnya tanah sering terjadi ketika curah hujan tinggi menyebabkan air terkumpul di satu titik, yang kemudian masuk ke dalam rongga atau aliran sungai bawah tanah, memicu erosi dan keruntuhan. Fenomena sinkhole di Gunungkidul bukan hal baru; beberapa kejadian serupa, seperti amblesan di lahan pertanian dengan diameter hingga 4 meter dan kedalaman mencapai 4 meter, telah tercatat pada awal Januari 2025 di Pacarejo dan di Donorejo pada Januari 2024. Bahkan, pada Februari 2025, sinkhole sedalam 10 meter muncul di lahan pertanian di Rongkop.

Kepala Pusat Studi Bencana UGM, Djati Mardiatno, pernah menyatakan bahwa tanah karbon yang terbentuk dari batuan gamping cenderung memiliki kemampuan kembang susut tinggi, memperbesar dan memperdalam lubang-lubang yang ada. Ia menambahkan bahwa dinding gua yang runtuh juga dapat menjadi pemicu amblesan, meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut menggunakan radar untuk verifikasi. Dosen Teknik Geologi UPN "Veteran" Yogyakarta, Arif Rianto Budi Nugroho, pada 2018 juga mengkonfirmasi bahwa kondisi ini wajar di daerah karst, di mana air masuk melalui rekahan dan menyebabkan pelapukan kimiawi batuan gamping, suatu proses yang dapat berlangsung puluhan hingga ratusan tahun.

Insiden di bawah rumah warga Gunungkidul ini menggarisbawahi urgensi pemahaman dan adaptasi terhadap karakteristik geologi lokal. Pihak berwenang telah memasang garis polisi di sekitar lokasi untuk mencegah warga mendekat dan mengimbau masyarakat di sekitar untuk tetap waspada terhadap tanda-tanda retakan bangunan, genangan air yang tidak biasa, serta suara-suara mencurigakan dari dalam tanah. Ke depan, koordinasi antara pemerintah daerah dan ahli geologi akan krusial dalam pemetaan area rawan dan pengembangan strategi mitigasi yang efektif untuk melindungi masyarakat yang tinggal di kawasan karst aktif ini. Langkah-langkah ini penting tidak hanya untuk merespons kejadian darurat, tetapi juga untuk merencanakan pembangunan yang berkelanjutan di salah satu bentang alam unik di Indonesia.