Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bobotoh Wajib Simak! Imbauan Penting Jelang Persib vs Persija di GBLA

2026-01-09 | 18:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T11:33:51Z
Ruang Iklan

Bobotoh Wajib Simak! Imbauan Penting Jelang Persib vs Persija di GBLA

Pemerintah Kota Bandung dan Kepolisian Daerah Jawa Barat mengimbau keras para pendukung Persib Bandung, Bobotoh, untuk tidak melakukan aksi "sweeping" kendaraan berpelat nomor tertentu maupun konvoi berlebihan menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) menjelang pertandingan "El Clasico" Liga 1 antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta pada Minggu, 11 Januari 2026. Seruan ini dikeluarkan untuk mencegah terulangnya insiden kekerasan dan menjaga kondusivitas di dalam maupun luar stadion, mengingat rivalitas panjang kedua tim yang kerap memicu gesekan serius.

Imbauan tersebut disampaikan langsung oleh Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Rudi Setiawan, setelah memimpin rapat koordinasi pengamanan pertandingan di Polrestabes Bandung pada Kamis, 8 Januari 2026. Kapolda menekankan pentingnya sinergi antara Polri, TNI, Pemerintah Daerah, dan Panitia Pelaksana (Panpel) dalam mengamankan laga berisiko tinggi ini. "Kami meminta para pendukung untuk tidak melakukan aksi sweeping kendaraan berpelat nomor tertentu dan tidak terpancing provokasi. Tindakan anarkis hanya akan merugikan tim Persib yang saat ini tengah bersaing di puncak klasemen," ujar Irjen Pol. Rudi Setiawan. Ia juga menegaskan larangan membawa barang berbahaya seperti senjata tajam, minuman keras, dan kembang api (flare) ke stadion, serta melarang suporter tanpa tiket resmi untuk memaksakan diri datang.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, turut memperkuat seruan tersebut, meminta Bobotoh untuk menunjukkan kedewasaan dalam mendukung tim. "Menang kalah jangan pawai. Kita tunjukkan bahwa bobotoh, baik saat senang maupun sedih, tetap bisa menjaga ketertiban dan tidak menyusahkan orang lain," kata Farhan pada Jumat, 9 Januari 2026. Menurutnya, dukungan terbaik tidak hanya sebatas kehadiran di stadion, tetapi juga menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.

Secara historis, rivalitas antara Persib dan Persija, yang dijuluki "El Clasico" Indonesia, telah berulang kali diwarnai insiden kekerasan antarsuporter yang merenggut korban jiwa. Data menunjukkan setidaknya tujuh suporter tewas akibat bentrokan antara Bobotoh dan The Jakmania sejak tahun 2012. Salah satu insiden tragis yang masih membekas adalah pengeroyokan Haringga Sirila, seorang suporter Persija, hingga tewas di area parkiran GBLA pada September 2018 sebelum pertandingan dimulai. Insiden tersebut dipicu oleh identitas korban sebagai pendukung Persija yang terdeteksi saat sweeping. Sebelumnya, pada Juli 2017, Ricko Andrean Maulana, seorang Bobotoh, juga tewas dikeroyok sesama oknum Bobotoh karena disangka The Jakmania saat mencoba menolong suporter lain.

Menyikapi sejarah kelam ini, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah memperpanjang kebijakan pelarangan suporter tandang untuk kompetisi Liga 1 musim 2025/2026 dengan alasan keamanan dan ketertiban. Larangan ini, yang seharusnya berakhir tahun ini setelah diberlakukan dua tahun pasca-Tragedi Kanjuruhan 2022, diperpanjang mengingat masih adanya insiden pelanggaran yang dilakukan oknum suporter, termasuk saat selebrasi juara Persib pada Mei 2025 di GBLA yang diwarnai flare dan petasan.

Pengamanan laga Persib vs Persija pada 11 Januari 2026 di GBLA akan melibatkan sekitar 3.000 personel gabungan Polri dan TNI. Polda Jawa Barat telah mengambil alih penuh pengamanan karena pertandingan ini masuk kategori berisiko tinggi, dengan penerapan tiga lapis pemeriksaan tubuh (body checking) untuk memastikan tidak ada barang terlarang masuk stadion. Semua potensi gangguan keamanan, mulai dari pergerakan suporter, akses masuk stadion, hingga potensi provokasi di media sosial, telah dipetakan secara detail guna memitigasi risiko. Panitia pelaksana juga tidak akan memberikan toleransi kepada penonton tanpa tiket, sebagai upaya memerangi praktik percaloan yang masih menjadi perhatian serius aparat keamanan.

Implikasi dari rivalitas suporter yang kerap berujung pada kekerasan ini tidak hanya merugikan citra sepak bola Indonesia, tetapi juga menimbulkan kerugian materiil bagi klub yang harus menanggung denda dari Komite Disiplin PSSI. Lebih jauh, kerusuhan suporter terus menjadi masalah utama sepak bola Tanah Air, menurut survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Oktober 2023. Perpanjangan larangan suporter tandang secara tidak langsung menunjukkan bahwa pengelolaan suporter di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Upaya untuk menciptakan atmosfer pertandingan yang kondusif dan menjunjung tinggi sportivitas menjadi krusial demi masa depan sepak bola nasional. Meskipun ada upaya dari sebagian Bobotoh dan The Jakmania untuk menjalin persahabatan, edukasi dan penegakan hukum yang tegas tetap diperlukan untuk memastikan bahwa rivalitas di lapangan hijau tidak lagi berujung pada tragedi di luar lapangan.